Persaingan antara Amerika Serikat-Israel dan Iran diperkirakan menciptakan suasana hati yang cenderung menghindari risiko dalam pasar global, termasuk saham perusahaan kendaraan listrik (Electric Vehicle) seperti PT Astra International Tbk (ASII), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) dan PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS).
Tegangan geopolitik bisa mengganggu pasokan minyak, khususnya akibat penutupan Selat Hormuz. Kondisi ini dianggap dapat menjadi pemicu positif bagi industri kendaraan listrik sebagai alternatif energi yang tidak berasal dari bahan bakar fosil, terlebih dengan isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang semakin marak. Lalu, apakah saham perusahaan kendaraan listrik berpeluang naik akibat konflik AS-Iran?
Menurut Analyst Kepemilikan PT Indo Premier Sekuritas David Kurniawan, perusahaan-perusahaan kendaraan listrik atau EV pada dasarnya tidak terlalu rentan terhadap perubahan harga minyak dalam jangka panjang. Menurutnya, dampak konflik saat ini lebih bersifat psikologis jangka pendek.
Ia menganggap, eskalasi geopolitik hanya memberi tekanan pada saham secara sentimen sementara. Meskipun demikian, menurutnya jika dasar perusahaan kuat dan tren EV global stabil, potensirebound masih tetap ada setelah perasaan negatif berkurang.
“ASII VKTR IMAS, masih memiliki peluang namun perlu siap menghadapi volatilitas jangka pendek,” ujar David kepada Bisnis.Laksamana.id, Senin (30/3).
Pada perdagangan hari ini, harga saham ASII meningkat sebesar 3,67% menjadi 6.375 pada sesi intraday pukul 14.33 WIB. Di sisi lain, saham VKTR hanya naik sedikit 0,70% menjadi 715 dan saham IMAS justru turun 1,44% menjadi 1.025.
Kepala Riset MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menetapkan target harga untuk masing-masing emiten. Ia menetapkan level 6.575-6.800 sebagai target harga ASII mengingat meningkatnya ketegangan konflik geopolitik saat ini. Di sisi lain, target harga saham IMAS masihwait and see dsebuah VKTR diperkirakan akan bergerak menuju level 785-900
Melihat Kinerja Dasar ASII, VKTR dan IMAS
VKTR adalah perusahaan milik Grup Bakrie yang berfokus pada pengembangan elektrifikasi transportasi menggunakan energi ramah lingkungan. Dilihat dari kinerja keuangan perusahaan, VKTR mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp 11,36 miliar.
Posisi tersebut berbeda dengan laba yang diraih perusahaan pada tahun sebelumnya sebesar Rp 7,56 miliar. Meskipun mengalami kerugian, VKTR mencatatkan peningkatan pendapatan, meskipun dengan tingkat kenaikan yang sangat kecil. Pendapatan VKTR meningkat menjadi Rp 1,08 triliun dari Rp 1 triliun dalam periode tahunan.
Biaya pokok pendapatan perusahaan meningkat menjadi Rp 892,62 miliar dibandingkan dengan Rp 825,51 miliar pada tahun sebelumnya. Pos biaya umum dan administrasi perusahaan melonjak menjadi Rp 177 miliar dari Rp 157,58 miliar secara tahunan. Selanjutnya, pos biaya keuangan juga naik sebesar Rp 17,08 miliar dari Rp 10,63 miliar pada tahun yang sama.
Sementara itu, perusahaan otomotif besar Astra ASII mencatatkan laba bersih sebesar Rp 32,76 triliun selama tahun lalu. Angka ini mengalami penurunan sebesar 3,36% dibandingkan dengan laba bersih perusahaan pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp 33,9 triliun.
Kepala Eksekutif Astra, Djony Bunarto Tjondro, menyatakan bahwa penurunan laba terutama disebabkan oleh turunnya harga batu bara dan permintaan pasar mobil baru yang menurun. “Namun, kinerja bisnis Grup tetap tangguh berkat kontribusi positif dari sejumlah bisnis lainnya,” ujarnya dalam pernyataan pers yang dilansir Jumat (27/2).
Astra memproyeksikan perbaikan suasana hati konsumen, meskipun situasi operasional di beberapa bidang usaha masih menghadapi tantangan. Perusahaan menegaskan tetap fokus pada keunggulan operasional serta disiplin dalam penggunaan modal dengan memanfaatkan neraca yang stabil untuk menghasilkan nilai yang berkelanjutan bagi semua pihak terkait.
Mengutip laporan keuangan ASII hingga tanggal 31 Desember 2025, pendapatan bersih mengalami penurunan sebesar 1,54% menjadi Rp 323,39 triliun dari Rp 328,48 triliun dalam periode tahunan atau year on year (yoy). Sementara itu, IMAS belum melaporkan kinerja keuangan untuk tahun 2026.







