Banyak penggemar sepak bola Jerman mengalami keraguan apakah akan pergi ke Amerika Serikat untuk menyaksikan kompetisi sepak bola terbesar pada musim panas mendatang.
Kereta yang berangkat ke kota Stuttgart, Jerman, terlihat cukup penuh. Setiap kali kereta berhenti, banyak orang yang mengenakan seragam tim nasional Jerman naik ke dalam kereta. Suasana di dalamnya ramai dengan percakapan tentang tim nasional sepak bola Jerman dan Piala Dunia FIFA 2026 yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Di akhir bulan Maret, Timnas Jerman menghadapi Ghana dalam laga internasional terakhir sebelum persiapan Piala Dunia dimulai. Banyak penggemar sudah mulai melakukan perjalanan sejak pagi hari, termasuk Dennis dan Kai.
Dua teman dari Jerman utara ini mengenakan seragam tim nasional dan naik kereta lebih awal, penuh antusiasme untuk mendukung tim secara langsung pada malam itu di Stuttgart.
Bagi Dennis, perjalanan semacam ini sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Ia telah bergabung dengan tim nasional sejak 2015, dan pria berusia 40 tahun ini hampir tidak pernah melewatkan satu pertandingan pun sejak itu. “Mengenakan jersey dengan lambang elang di dada dan menyanyikan lagu kebangsaan adalah hal yang luar biasa,” ujar Dennis kepada DW. “Kamu selalu bertemu dengan penggemar lain, melakukan perjalanan ke turnamen, itu selalu membuatmu merasa kagum.”
Keduanya merupakan penggemar fanatik, yang selalu mendukung tim dalam setiap pertandingan, baik di mana pun pertandingan tersebut digelar.
Suasana menjelang turnamen
Tak heran, Piala Dunia FIFA 2026 telah tercantum dalam kalender mereka.
Saya sangat menantikannya,” kata Kai, matanya berkilau saat berbicara. “Saya ingin mengikuti semua kejadian di kota-kota yang menjadi tuan rumah. Dennis selalu banyak membicarakan hal itu.
Dennis menambahkan, antusiasme selalu dimulai jauh sebelum turnamen berlangsung, “kegembiraan sudah dimulai dua tahun sebelumnya, Anda mulai menabung dan memikirkan bagaimana perjalanan tersebut nantinya.”
Keduanya telah membeli tiket untuk pertandingan Timnas Jerman di babak grup, dan rencana perjalanan mereka sudah siap. Mereka sangat menantikan acara tersebut, dankondisi politik yang terjadi saat ini di Amerika Serikat tidak meredam semangat mereka.
“Politik seharusnya benar-benar dijauhkan dari dunia olahraga. Olahraga bertujuan untuk menghubungkan dan menyatukan orang, tetapi politik sering kali memanfaatkan ajang seperti ini,” ujar Dennis.
Peringatan untuk tidak bepergian
Namun, tidak semua orang merasa aman. Belakangan ini, mantan pelatih utama Jerman Joachim Löw memberi peringatan agar tidak melakukan perjalanan ke Amerika Utara.
“Kami telah mengadakan diskusi bahkan sebelum Piala Dunia 2018 di Rusia dan ada aksi boikot yang muncul menjelang Piala Dunia 2022 di Qatar. Namun, bermain di negara yang saat ini sedang terlibat dalam konflik bersenjata jauh lebih berisiko,” ujar Löw dalam sebuah acara di Köln.
Löw, yang memimpin Jerman meraih kemenangan dalam Piala Dunia FIFA 2014 di Brasil, menyebut kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang memulai konflik dengan Iran pada akhir Februari.
Selain itu, tindakan yang dilakukan oleh lembaga imigrasi ICEdan konflik geopoliitik lainnya memicu ketidakstabilan dan ketidakpastian. Kondisi politik “sepenuhnya mengancam ajang ini,” ujar Löw.
Anggota Partai Hijau khawatir mengenai privasi
Kritik pedas dari kalangan politik juga telah muncul dan terus berlangsung.
“Yang diadakan FIFA di sana bersama Donald Trump bukanlah sesuatu yang membuat saya antusias,” kata Boris Mijatovic, politisi Partai Hijau dan aktivis hak asasi manusia, kepada DW.
“Pengungkapan informasi pribadi, seperti alamat surel, nomor telepon, komputer, atau akun media sosial, tidak boleh dianggap remeh. Semua hal ini merupakan pelanggaran terhadap kebebasan individu yang tidak akan saya terima, negara yang melakukan pengintaian terhadap privasi Anda dengan cara demikian tidak pantas diberi apresiasi melalui kunjungan,” ujar Mijatovic.
Mijatovic juga khawatir akan munculnya lebih banyak”momen canggung yang memalukan”seperti saat Presiden FIFA Gianni Infantino memberikan penghargaan baru FIFA Peace Prize kepada Donald Trump dalam undian Piala Dunia.
“Saya merasa hal tersebut sangat memuakkan, cara seseorang harus menghormati presiden ini agar mendapatkan persetujuannya. Hal yang sama berlaku untuk Gianni Infantino maupun Kanselir Jerman Friedrich Merz,” tambah politisi tersebut, sambil menyertakan Presiden Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) Bernd Neuendorf dalam kritiknya.
Mijatovic merasa kurang berani untuk menyampaikan kritik terhadap FIFA.
Saya merindukan sikap tersebut,” katanya. “Apa yang pernah kita bangun, dengan rasa hormat dan keadilan, telah hancur lebur.
Baru-baru ini, laporan dari lembaga perlindungan hak asasi manusia Amnesty International juga menyoroti pelanggaran yang terjadi di negara-negara penyelenggara Piala Dunia, khususnya di Amerika Serikat.
Penggemar asal Jerman meragukan ajang kompetisi ini
Bagi penggemar Jerman Bengt Kunkel, Piala Dunia tahun ini akan ia tonton melalui layar kaca rumah, bukan secara langsung.
“Ia melihat Piala Dunia ini secara sangat kritis,” katanya. Trump menjadi masalah besar, tambahnya, karena ia berusaha mengklaim Piala Dunia sebagai milik pribadinya dan memanfaatkannya untuk tujuan politik.
“Di samping itu, terdapat batasan terhadap kebebasan pers dan kebebasan berekspresi, ditambah lagi sikap FIFA yang setia pada kepentingan politik dengan memberikan penghargaan perdamaian kepada Donald Trump,” ujar Kunkel, yang juga mengkritik biaya yang harus dibayar oleh para penggemar.
“Kami menghitung bahwa hanya untuk fase grup saja,kami mungkin perlu menghabiskan antara 5.000 hingga 8.000 euro,” jelas seorang penggemar asal Jerman itu.
Ini bukan kompetisi yang menyenangkan bagi penggemar. Tidak ada hal menarik dari Piala Dunia ini bagi saya, jadi jelas saya tidak akan datang.
Persyaratan pendaftaran yang lebih ketat bagi para penggemar juga menimbulkan kekhawatiran bagi seorang pemuda berusia 27 tahun.
“Ketika mereka (AS) menyatakan, ‘kami akan memeriksa semua aktivitas media sosial orang-orang yang ingin masuk ke AS dan melihat apakah ada yang menyukai atau memposting sesuatu yang bertentangan dengan Donald Trump,’ saya merasa itu bukan cara yang tepat untuk mengajak dunia merayakan festival sepak bola,” lanjut Kunkel.
Ketika politik ikut terlibat dalam dunia olahraga
Kunkel menyadari bahwa Piala Dunia FIFA 2026 saat ini sedang memicu perpecahan di kalangan penggemar.
“Tetapi saya memahami siapa pun yang tetap pergi ke sana,” kata Kunkel,sambil menambahkan bahwa ia tidak percaya pada boikot sebagai solusi.
Mendukung tim nasional seharusnya bukanlah masalah, terlepas dari segala sesuatu. Oleh karena itu, marilah kita memaksimalkan situasi ini dan menikmati musim panas Piala Dunia yang luar biasa.
Bahkan Dennis dan Kai mengakui bahwa ini “bukan Piala Dunia yang menyenangkan bagi penggemar.”
Meskipun demikian, mereka percaya Amerika Serikat akan menjamin keselamatan seluruh masyarakat dan ajang ini akan menjadi perayaan sepak bola yang luar biasa.
Kami berharap menjadi juara dunia,” ujar Dennis. “Kami perlu menjadi satu tim dan bertindak sebagai tim. Dan jika para pendukung berdiri di belakang tim, kami mampu melangkah jauh.
Artikel ini awalnya ditulis dalam bahasa Inggris.
Diadaptasi oleh Iryanda Mardanuz
Editor: Yuniman Farid
ind:content_author: Thomas Klein







