Scroll to read post

Kerusakan Manajemen SDM di Startup Indonesia: Apa yang Harus Berubah?

Radi Geary
Kerusakan Manajemen SDM di Startup Indonesia: Apa yang Harus Berubah?
Kerusakan Manajemen SDM di Startup Indonesia: Apa yang Harus Berubah?
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 22 Mei 2026 | Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di perusahaan teknologi Indonesia terus berlanjut sejak 2023. Ribuan karyawan kehilangan pekerjaan, banyak di antaranya adalah generasi muda yang baru beberapa tahun membangun karier di industri yang sebelumnya dianggap paling menjanjikan. Publik melihat ini sebagai dampak dari tekanan ekonomi global, kenaikan suku bunga, dan keringnya pendanaan ventura. Namun, ada sisi lain yang nyaris tidak pernah dibicarakan: bagaimana praktik manajemen sumber daya manusia di ekosistem startup Indonesia ikut berkontribusi memperbesar kerusakan yang terjadi, baik bagi karyawan maupun bagi perusahaan itu sendiri.

Salah satu penyebab PHK massal ini adalah praktik rekrutmen yang tidak bertanggung jawab. Banyak perusahaan merekrut secara agresif, bukan karena ada kebutuhan operasional yang terukur, melainkan karena investor menuntut pertumbuhan dan jumlah karyawan sering dijadikan proxy pertumbuhan itu. Akibatnya, banyak posisi dibuat bukan karena benar-benar dibutuhkan. Banyak orang direkrut tanpa kejelasan peran jangka panjang. Struktur organisasi dibentuk tergesa-gesa untuk mengakomodasi headcount yang terus bertambah, bukan untuk mendukung strategi bisnis yang kohesif.

PHK yang tidak manusiawi juga menjadi perhatian. Beberapa kasus menunjukkan pola yang mengkhawatirkan. Karyawan diberitahu lewat email mendadak, akses ke sistem kerja dicabut sebelum pemberitahuan resmi diterima, dan pertemuan virtual massal diadakan hanya untuk mengumumkan bahwa separuh pesertanya tidak lagi bekerja di perusahaan tersebut mulai hari itu.

Paradoks lainnya adalah banyak startup yang mengklaim people-first, tapi praktiknya berbeda. Hampir semua startup besar Indonesia pernah mempublikasikan nilai-nilai perusahaan yang menempatkan manusia sebagai prioritas. Namun, gelombang PHK massal ini memperlihatkan jarak yang menganga antara nilai yang diklaim dan praktik yang dijalankan.

Untuk bertahan dan tumbuh secara berkelanjutan, startup perlu memahami bahwa manusia bukan sekadar sumber daya. Mereka adalah fondasi dari segalanya. Rekrutmen perlu kembali ke prinsip dasarnya: membangun tim yang tepat untuk peran yang tepat berdasarkan kebutuhan bisnis yang nyata, bukan mengejar angka headcount untuk kepentingan narasi pertumbuhan kepada investor. Struktur organisasi perlu dibangun dengan logika, bukan dengan kecepatan.

Ketika situasi memaksa terjadinya pengurangan tenaga kerja, prosesnya perlu dikelola dengan standar kemanusiaan yang tidak bisa dikompromikan: komunikasi yang jujur dan tepat waktu, pesangon yang sesuai hak, dukungan transisi karier, dan perlakuan yang menghormati martabat setiap individu yang terdampak.

Gelombang PHK di ekosistem startup Indonesia bukan semata-mata korban dari kondisi ekonomi global. Sebagian dari kerusakannya adalah hasil dari pilihan manajemen yang bisa dan seharusnya dibuat berbeda. Memperlakukan SDM sebagai variabel yang bisa disesuaikan dengan cepat saat tekanan datang adalah pandangan yang keliru dan mahal—tidak hanya bagi karyawan yang terdampak, tetapi juga bagi keseluruhan kesehatan organisasi dalam jangka panjang.