Scroll to read post

Ekonomi Sebut Rupiah Melemah Tidak Mirip dengan Krisis Pada Masa Habibie

Ekonomi Sebut Rupiah Melemah Tidak Mirip dengan Krisis Pada Masa Habibie
Ekonomi Sebut Rupiah Melemah Tidak Mirip dengan Krisis Pada Masa Habibie
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 24 Mei 2026 | Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang mengalami tekanan yang cukup besar, terutama dalam hal nilai tukar rupiah. Pasar uang telah menyaksikan penurunan nilai rupiah terus menerus dalam beberapa waktu terakhir, mencapai level terlemah sepanjang sejarah. Sementara itu, peneliti ekonomi dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Dwiwulan, mengatakan bahwa kebijakan pemerintahan Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, tidak dapat diulang untuk memulihkan nilai rupiah saat ini.

Saat ini, Indonesia menghadapi tantangan ekonomi yang jauh lebih kompleks dibandingkan pada masa Habibie. Defisit transaksi berjalan yang dipengaruhi oleh tingginya belanja jasa dan repatriasi dividen besar merupakan beberapa faktor yang memperburuk kondisi ekonomi. Selain itu, belanja barang juga bergantung pada harga komoditas yang sangat volatil. Dwiwulan menjelaskan bahwa resep untuk memulihkan rupiah saat ini jauh lebih panjang dan kompleks dibandingkan pada masa Habibie.

Ekonomi Researcher CORE, Yusuf Randy Manilet, juga menilai target nilai tukar rupiah di kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.500 per dolar AS pada 2027 dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) bukan merupakan target penguatan rupiah yang agresif, melainkan lebih sebagai upaya menjaga agar pelemahan rupiah tidak bergerak lebih dalam. Menurut Yusuf, target tersebut sebenarnya relatif realistis dan bahkan cukup konservatif.

Bagaimanapun juga, tantangan utama yang dihadapi oleh pemerintah saat ini bukan hanya terkait dengan nilai tukar rupiah, melainkan juga bagaimana mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi tanpa memperbesar ketergantungan pada pembiayaan eksternal. Oleh karena itu, pemerintah harus dapat membuat kebijakan yang tepat untuk memulihkan kondisi ekonomi Indonesia dan meningkatkan kepercayaan investor.