Scroll to read post

Paylater dan FOMO: Ancaman Krisis Finansial bagi Gen Z

Radi Geary
Paylater dan FOMO: Ancaman Krisis Finansial bagi Gen Z
Paylater dan FOMO: Ancaman Krisis Finansial bagi Gen Z
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 22 Mei 2026 | Kemudahan transaksi dan pengaruh media sosial membuat budaya konsumtif semakin meningkat di kalangan Gen Z. Paylater dan FOMO (Fear of Missing Out) menjadi dua fenomena yang berpotensi menyebabkan krisis finansial di kalangan anak muda.

Paylater telah menjadi bagian dari gaya hidup banyak Gen Z di era digital. Kemudahan akses dan proses transaksi yang cepat membuat banyak orang merasa mampu membeli apa pun hari ini tanpa memikirkan kondisi keuangan jangka panjang. Namun, fenomena ini juga menyebabkan banyak anak muda terjebak dalam budaya konsumtif yang tidak sehat.

Banyak anak muda mulai membeli sesuatu bukan lagi karena kebutuhan, melainkan karena dorongan tren dan gaya hidup digital. Mereka mulai memaksakan diri mengikuti gaya hidup tertentu demi pengakuan sosial. Media sosial memiliki peran besar dalam fenomena ini, membuat gaya hidup orang lain terlihat menarik dan seolah harus diikuti.

Jika digunakan tanpa kontrol, kebiasaan konsumtif dapat menjadi awal dari masalah finansial yang lebih besar. Oleh karena itu, penting bagi anak muda untuk memiliki manajemen keuangan yang baik dan tidak terjebak dalam budaya konsumtif yang tidak sehat.

Krisis finansial tidak selalu dimulai dari utang besar atau kebangkrutan. Terkadang, semuanya dimulai dari kebiasaan kecil yang terus dianggap normal setiap hari. Jika kebiasaan tersebut terus dilakukan tanpa kontrol, masalah finansial perlahan akan menjadi bagian dari kehidupan generasi muda.

Untuk menghindari krisis finansial, anak muda perlu memiliki kemampuan mengelola keuangan yang baik dan tidak terjebak dalam budaya konsumtif yang tidak sehat. Mereka perlu memahami bahwa kebebasan finansial tidak dibangun dari seberapa sering seseorang mengikuti tren, tetapi dari seberapa baik seseorang mengelola uang dan mengendalikan keinginannya sendiri.

Hasilnya, hidup bukan tentang siapa yang paling terlihat sukses di media sosial, melainkan tentang siapa yang benar-benar mampu menjaga kestabilan hidupnya di dunia nyata.