bisnis.laksamana.id – 22 Mei 2026 | Pasar saham Indonesia menghadapi tekanan besar setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah signifikan pada perdagangan Rabu (20/5) dan Kamis (21/5). IHSG ditutup anjlok 52,18 poin (-0,82 persen) ke level 6.318,5, dan kembali merosot 174,140 poin atau 2,76 persen menjadi 6.144,359 pada sesi I Kamis (21/5). Menteri Keuangan Yudhi Sadewa menanggapi fenomena ini dengan menunjuk pada ketidakpastian investor. Purbaya menjelaskan anjloknya IHSG kemungkinan besar karena investor belum memahami tujuan di balik mekanisme ekspor baru ini.
Pembentukan PT Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai badan usaha tunggal eksportir tiga komoditas strategis dipandang sebagai salah satu penyebab anjloknya IHSG. Namun, Menteri Keuangan Yudhi Sadewa menunjuk pada kekhawatiran investor akan praktik under invoicing dan transfer pricing yang merugikan. Ia meyakini bahwa pembentukan PT DSI bertujuan memberantas praktik-praktik tersebut, sehingga seharusnya dapat melipatgandakan keuntungan emiten yang melakukan ekspor serta meningkatkan valuasi perusahaan di bursa secara signifikan.
Bursa Singapura, di sisi lain, melonjak menjadi pasar saham terbesar di Asia Tenggara. Kapitalisasi pasar Singapura mencapai USD 645 miliar, sementara kapitalisasi pasar Indonesia turun menjadi USD 618 miliar dari puncaknya pada Januari. Kenaikan pasar saham Singapura didorong oleh stabilitas politik dan ekonomi, serta kebijakan pemerintah yang proaktif. Sebaliknya, sentimen terhadap Indonesia memburuk karena kekhawatiran penurunan klasifikasi pasar saham menjadi frontier market dan revisi outlook peringkat kredit.
Head of Equity Research Oversea-Chinese Banking Corp di Singapura, Carmen Lee, memperkirakan arus dana akan terus mengalir ke pasar saham Singapura, didukung oleh kuatnya dolar Singapura. Indeks Straits Times bahkan mencetak rekor tertinggi pada Selasa lalu di tengah meningkatnya permintaan aset safe haven akibat volatilitas pasar global. Meskipun ekonomi Singapura (USD 660 miliar) lebih kecil dari Indonesia (USD 1,5 triliun) menurut IMF, kinerja pasar sahamnya diproyeksikan menjadi yang terbaik di Asia Tenggara pada 2026.
Menghadapi tekanan besar, pasar saham Indonesia menghadapi tantangan untuk meningkatkan kinerjanya. Investor global telah menarik lebih dari USD 4 miliar dari pasar saham negara berkembang Asia Tenggara, dengan Indonesia menyumbang lebih dari separuh. Keputusan MSCI Inc. menghapus sejumlah saham Indonesia dari indeksnya diperkirakan memicu arus keluar dana hingga USD 2 miliar. Meskipun pemerintah Indonesia meluncurkan reformasi pasar modal, perhatian investor kini tertuju pada hasil evaluasi MSCI bulan depan.
Tak ada kepastian apakah pasar saham Indonesia akan mengalami rebound atau terus melemah. Namun, satu hal jelas, pasar saham Singapura telah menyalip Indonesia, menjadikannya pasar saham terbesar di Asia Tenggara. Kinerja pasar saham Singapura diprediksi akan menjadi yang terbaik di Asia Tenggara pada 2026.









