Scroll to read post

Perempuan Pintar di Indonesia: Mengapa Banyak Berakhir ‘Stuck’ di Rumah?

shaib Oxley shaib
Perempuan Pintar di Indonesia: Mengapa Banyak Berakhir 'Stuck' di Rumah?
Perempuan Pintar di Indonesia: Mengapa Banyak Berakhir 'Stuck' di Rumah?
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 13 Mei 2026 | Di Indonesia, ada fenomena yang sering luput dibahas secara serius: perempuan yang ‘berhenti’ setelah menikah. Bukan berhenti hidup, tentu saja, melainkan berhenti mengejar ruang profesional yang dulu pernah mereka bangun. Gelarnya ada, keterampilannya mumpuni, bahkan sebagian pernah punya karier menjanjikan. Namun setelah menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, perlahan muncul perasaan kehilangan arah dan identitas diri.

Fenomena ini sering disebut sebagai stuck at home syndrome. Kondisi ketika perempuan merasa terjebak dalam rutinitas domestik tanpa ruang cukup untuk berkembang secara personal maupun profesional. Ironisnya, banyak yang sebenarnya ingin kembali bekerja, tetapi terhambat oleh norma sosial, beban pengasuhan, hingga rasa bersalah jika dianggap ‘kurang total’ menjadi ibu.

Banyak studi global menunjukkan bahwa peningkatan partisipasi kerja perempuan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Dalam konteks keluarga pun demikian. Rumah tangga dengan dua sumber penghasilan umumnya lebih tahan menghadapi tekanan ekonomi, mulai dari kenaikan biaya pendidikan hingga krisis finansial tak terduga.

Di Indonesia, perempuan sering kali menghadapi dilema yang unik: ketika bekerja dianggap kurang fokus mengurus keluarga, sementara ketika hanya di rumah justru kehilangan ruang aktualisasi diri. Ada anggapan lama bahwa ibu rumah tangga ‘tidak bekerja’. Padahal kenyataannya justru sebaliknya: pekerjaan domestik berlangsung tanpa jam pulang, tanpa cuti, dan sering tanpa apresiasi.

Penelitian dalam Jurnal P3K tahun 2024 menemukan adanya hubungan positif antara stres dan burnout pada ibu rumah tangga. Artinya, semakin tinggi tekanan psikologis yang dialami, semakin besar pula risiko kelelahan emosional. Sebaliknya, ibu rumah tangga dengan tingkat stres rendah dan dukungan sosial yang baik cenderung lebih mampu menjalani peran domestik secara sehat.

Masalahnya, banyak perempuan tumbuh dalam budaya yang menormalisasi pengorbanan total. Mereka diajarkan menjadi ‘ibu yang baik’, tetapi jarang diajarkan cara menjaga kesehatan mentalnya sendiri. Bayangkan kasus seperti Ibu Anin, sebuah lulusan S-1 Akuntansi dengan predikat cumlaude yang setelah lima tahun menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, mulai merasa kehilangan identitas profesionalnya.

Kabar baiknya, dunia kerja hari ini jauh lebih fleksibel dibanding satu dekade lalu. Banyak perempuan mulai menemukan cara baru untuk tetap hadir bagi keluarga tanpa sepenuhnya meninggalkan aktualisasi diri. Ada yang menjadi virtual assistant dari rumah, ada yang membuka kelas daring, ada pula yang membangun usaha kecil berbasis media sosial.

Selama ini masyarakat sering membentuk standar ibu ideal yang nyaris mustahil: harus sabar, selalu hadir, tidak mengeluh, dan mengutamakan keluarga di atas segalanya. Akibatnya, banyak perempuan merasa bersalah ketika mulai memikirkan dirinya sendiri. Padahal menjadi ibu yang bahagia juga bagian dari pengasuhan yang sehat.

Menjadi ibu rumah tangga tentu pilihan yang mulia. Tetapi memendam potensi hanya karena takut stigma sosial adalah hal berbeda. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak perempuan yang berkembang, percaya diri, dan punya ruang untuk bertumbuh. Dan mungkin, langkah awalnya tidak harus besar.