bisnis.laksamana.id – 13 Mei 2026 | Di balik pagar pembatas Taman Buaya Indonesia Jaya di Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, terdapat seorang pria yang setiap hari berhadapan dengan ratusan reptil ganas. Dialah Nurdin, atau yang akrab dipanggil Pak Udin, seorang pawang buaya yang sudah berpengalaman puluhan tahun dalam mengurus buaya di tempat wisata tersebut.
Nurdin bukanlah orang baru dalam dunia buaya. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan kehidupan reptil predator ini, mengikuti jejak orang tuanya yang juga seorang pawang. “Dari kecil saya ikut orang tua. Setelah orang tua pensiun baru saya terjun langsung ngurus buaya,” ujar Nurdin sambil mengingat kembali awal mula kariernya.
Taman buaya seluas dua hektare ini adalah rumah bagi sekitar 500 ekor buaya dari tiga jenis utama: buaya Sumatera, Kalimantan, dan Irian. Di antara mereka, buaya putih albino menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Nurdin sangat mengenal karakter masing-masing jenis buaya tersebut. Menurutnya, buaya Irian dikenal paling agresif, sedangkan buaya Kalimantan lebih sensitif terhadap panas dan lebih suka berendam di air.
Meski kini terlihat akrab dengan para buaya, Nurdin mengakui bahwa pada awalnya ia merasa takut. Namun, kebiasaannya sehari-hari dan upayanya untuk selalu berhati-hati membuat rasa takut itu perlahan-lahan menghilang. Atraksi buaya yang menegangkan biasanya digelar seminggu sekali, terutama saat musim liburan. Dalam pertunjukan ini, para pawang kerap menunjukkan aksi ekstrem seperti mendekatkan kepala ke mulut buaya atau tidur di atas tubuh mereka.
Pekerjaan sebagai pawang buaya tentu bukan tanpa risiko. Nurdin pernah merasakan gigitan buaya ketika sedang membersihkan kolam. “Pernah digigit, sampai bolong kaki,” kenangnya. Kejadian itu terjadi saat salah satu buaya tak sengaja terinjak ketika kolam dikuras. Berbekal pengetahuan dari orang tuanya, Nurdin tahu bahwa cara untuk melepaskan gigitan adalah dengan menyentuh mata buaya, bukan memukulnya.
Selain melakukan perawatan dan memberi makan buaya, Nurdin juga rutin mendampingi pengunjung berkeliling taman, sekaligus mengingatkan mereka agar tidak sembarangan melempar benda ke dalam kolam atau memasukkan tangan ke area kandang demi keselamatan. Setiap minggu, ratusan kilogram pakan disediakan untuk memenuhi kebutuhan makan buaya yang mencapai tiga kali seminggu dengan total pakan setara satu mobil losbak ayam.
Kekhawatiran bukan hanya datang dari risiko gigitan, tetapi juga dari kondisi tempat wisata yang kadang sepi pengunjung. “Kalau sepi bos nombok juga, tapi buaya tetap harus makan,” ungkap Nurdin. Kekhawatiran terbesarnya adalah jika tempat ini harus tutup karena minimnya pengunjung. Namun, belakangan ini, taman buaya kembali menjadi sorotan setelah dijadikan lokasi syuting film Crocodile Tears, yang memberikan harapan akan kembali ramainya pengunjung.
Untuk meningkatkan daya tarik, pengelola berencana menambah fasilitas baru seperti kolam renang dan area wisata tambahan. Langkah ini diharapkan dapat mengundang lebih banyak pengunjung untuk menyaksikan kehidupan ratusan buaya yang dirawat dengan penuh dedikasi di Taman Buaya Indonesia Jaya.









