bisnis.laksamana.id – 14 Mei 2026 | Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengadopsi teknologi agentic AI dalam upaya memperbaiki akurasi prediksi cuaca antariksa. Inovasi ini diungkapkan dalam Kolokium Mingguan Pusat Riset Antariksa yang diadakan pada Rabu, 13 Mei 2026. Tujuan utama dari penerapan kecerdasan buatan ini adalah untuk menyederhanakan proses prakiraan yang selama ini membutuhkan waktu yang cukup lama.
Peneliti Riset Antariksa BRIN, Tiar Dani, menjelaskan bahwa AI dapat merampingkan alur kerja yang sebelumnya kompleks. Namun, ia juga menggarisbawahi adanya tantangan teknis dalam penggunaan AI murni, khususnya terkait batasan memori pada model bahasa besar. Menurutnya, model bahasa besar sering kali mengalami kendala dalam memori, sehingga dapat mempengaruhi akurasi prediksi.
“Kadang kalau misalnya saya pribadi pakai Gemini pagi, siang menjelang sore agak ngaco karena LLM ada context windows, jadi dia akan mengingat ada tokennya. Ada batasan dalam mengingat apa yang sudah dia kerjakan,” ujar Tiar Dani. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun AI memberikan banyak keuntungan, pengembangan lebih lanjut masih dibutuhkan untuk mengatasi keterbatasan yang ada.
Implementasi agentic AI ini diharapkan dapat memberikan prediksi yang lebih cepat dan tepat waktu, yang sangat penting untuk berbagai sektor yang bergantung pada informasi cuaca antariksa. Dengan kemajuan ini, BRIN berkomitmen untuk terus melakukan riset dan pengembangan di bidang teknologi AI guna mendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.
Dalam jangka panjang, penggunaan agentic AI ini tidak hanya akan meningkatkan efisiensi kerja para peneliti, tetapi juga memberikan dampak positif bagi berbagai industri yang membutuhkan data cuaca antariksa akurat untuk operasional mereka. Inisiatif ini sejalan dengan visi BRIN untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat inovasi teknologi terkemuka di Asia.
Secara keseluruhan, langkah BRIN dalam mengadopsi teknologi agentic AI merupakan bagian dari upaya untuk mendigitalisasi dan mengotomatisasi proses penelitian yang selama ini sangat manual. Keberhasilan implementasi ini dapat menjadi model bagi institusi lain dalam memanfaatkan teknologi AI untuk berbagai keperluan.









