bisnis.laksamana.id – 13 Mei 2026 | Kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan yang signifikan, mencapai level Rp 17.500 per USD. Situasi ini memicu langkah cepat dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang berkomitmen membantu Bank Indonesia (BI) dalam mengatasi tekanan terhadap mata uang nasional.
Purbaya menyatakan bahwa pemerintah akan menggunakan skema intervensi di pasar surat berharga atau bond market. Tujuan utama dari langkah ini adalah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mencegah capital outflow yang dapat menyebabkan tekanan lebih lanjut pada ekonomi Indonesia.
Pada rapat mendadak yang digelar di lobby Kementerian Keuangan, Purbaya dan jajarannya membahas strategi intervensi yang akan diterapkan. “Kami memiliki kas yang cukup untuk mendukung langkah ini dan memastikan yield bond tidak naik terlalu tinggi,” tutur Purbaya. Ia menambahkan bahwa pemerintah akan memulai intervensi di pasar obligasi dan perlahan bergerak ke pasar nilai tukar.
Sementara itu, pelemahan rupiah terus berlanjut. Pada penutupan perdagangan terbaru, nilai tukar rupiah melemah 115 poin menjadi Rp 17.529 per USD. Pelemahan ini dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang lebih lama serta faktor global lainnya, seperti ketegangan geopolitik dan harga minyak yang tinggi.
Langkah intervensi pemerintah diharapkan dapat menarik kembali minat investor asing ke pasar Indonesia, yang pada gilirannya dapat membantu memperkuat nilai tukar rupiah. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyatakan bahwa kombinasi dari faktor global dan domestik menjadi penyebab utama pelemahan ini, dan intervensi pemerintah dianggap sebagai langkah tepat untuk mengatasi situasi tersebut.
Di tengah kondisi yang menantang ini, masyarakat dan pelaku bisnis diharapkan tetap tenang dan waspada dalam merespons perubahan pasar. Pemerintah dan BI berkomitmen untuk terus memantau perkembangan dan mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.








