bisnis.laksamana.id – 14 Mei 2026 | Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah menjelaskan bahwa pemerintah sedang mencoba intervensi pasar sekunder obligasi untuk mencegah arus modal asing keluar atau capital outflow. Menurutnya, capital outflow akan menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah semakin signifikan. Intervensi tersebut dilakukan melalui Bond Stabilization Fund (BSF) untuk membantu peran Bank Indonesia (BI).
Purbaya mengatakan bahwa BSF akan membuat harga obligasi di Indonesia lebih stabil dan menarik bagi investor. Ia yakin bahwa nilai tukar rupiah bisa menguat kembali. Ia juga menilai bahwa BSF akan membantu mencegah arus modal keluar dari investor asing, yang merupakan salah satu pemicu pelemahan nilai tukar rupiah.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji, sebelumnya telah mengatakan bahwa Kemenkeu akan mengaktifkan kembali BSF di saat nilai tukar rupiah terus melemah hingga menembus Rp 17.500 per dolar AS, di tengah tekanan jual yang masif terhadap obligasi di pasar sekunder. Tujuan dari intervensi ini adalah untuk melakukan buyback SBN di pasar sekunder.
BSF juga bermanfaat untuk stabilisasi imbal hasil obligasi. Ketika terjadi aksi jual besar-besaran, harga obligasi akan jatuh yang otomatis imbal hasilnya akan mengalami kenaikan secara signifikan. Dengan demikian, BSF dapat membantu mencegah pelemahan nilai tukar rupiah.
Purbaya memastikan bahwa kebijakan ini dilakukan melalui komunikasi dengan bank sentral. Ia yakin bahwa BSF dapat membantu mencegah arus modal asing keluar dan membantu perkuat nilai tukar rupiah.
BSF juga dapat membantu mencegah pelemahan nilai tukar rupiah dengan cara membeli obligasi di pasar sekunder. Dengan demikian, harga obligasi akan stabil dan menarik bagi investor.
Kesimpulannya, BSF dapat membantu mencegah arus modal asing keluar dan membantu perkuat nilai tukar rupiah. Dengan demikian, pemerintah dapat mencapai tujuan stabilisasi nilai tukar rupiah.









