Scroll to read post

Self-Compassion: Fondasi Kesehatan Mental dalam Spiritualitas Modern

Radi Geary
Self-Compassion: Fondasi Kesehatan Mental dalam Spiritualitas Modern
Self-Compassion: Fondasi Kesehatan Mental dalam Spiritualitas Modern
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 13 Mei 2026 | Dalam dunia yang semakin terhubung, konsep self-compassion atau welas asih pada diri sendiri menjadi topik yang penting untuk dibahas. Kutipan dari HH Dalai Lama menggarisbawahi pentingnya memahami kesatupaduan umat manusia, di mana kebahagiaan individu terkait erat dengan kebahagiaan kolektif.

Filosofi ini sejalan dengan semangat Ubuntu dari Afrika Selatan, yang mengajarkan tentang keterbukaan dan kebersamaan. Nelson Mandela bahkan menggunakan prinsip ini untuk merajut kembali persatuan di Afrika Selatan pasca-Apartheid. Pengorbanan dan peluruhan ego dianggap sebagai puncak dari kebajikan spiritual.

Namun, di era modern, diskusi mengenai self-compassion memunculkan pertanyaan: Apakah fokus pada diri sendiri bertentangan dengan pengorbanan universal? Dalam kelas-kelas Compassion Training, sering ditemukan bahwa banyak peserta terjebak dalam tahap self-compassion dan kesulitan beralih fokus kepada orang lain. Hal ini bukanlah bentuk narsisme spiritual, tetapi lebih kepada pengakuan bahwa banyak individu masih berjuang dengan luka batin dan trauma masa lalu.

Welas asih pada diri sendiri adalah langkah awal yang penting dalam perjalanan spiritual. Ini bukanlah tujuan akhir, melainkan fase stabilisasi yang mempersiapkan individu untuk memberikan diri mereka secara utuh kepada orang lain. Kita harus merawat diri sendiri agar bisa hadir secara penuh untuk orang lain.

Self-compassion adalah sebuah pengakuan atas kondisi kita saat ini, memberikan waktu bagi diri sendiri untuk pulih sebelum melangkah lebih jauh. Dengan demikian, kita bisa menghindari perang batin dan benar-benar hadir bagi orang lain tanpa kepentingan tersembunyi. Ini adalah fondasi yang memampukan kita untuk mencapai kebahagiaan kolektif yang melampaui ego individual.