Scroll to read post

Ketika Asal Bapak Senang Menyamar sebagai Savoir-Vivre: Pengkhianatan Intelektual dalam Masyarakat Indonesia

akbar Laksamana
Ketika Asal Bapak Senang Menyamar sebagai Savoir-Vivre: Pengkhianatan Intelektual dalam Masyarakat Indonesia
Ketika Asal Bapak Senang Menyamar sebagai Savoir-Vivre: Pengkhianatan Intelektual dalam Masyarakat Indonesia
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 13 Juni 2026 | Pada awalnya, kemampuan untuk membawa diri dengan sopan dan santun dianggap sebagai salah satu kualitas yang membuat seseorang terasa menyenangkan dalam pergaulan sosial. Namun, dalam masyarakat Indonesia, kemampuan ini telah bergeser menjadi kecakapan menjaga posisi di hadapan kekuasaan, sehingga menciptakan peristiwa pengkhianatan intelektual.

Ilustrasi topeng. Foto: John Noonan/UnsplashSalah satu kualitas yang sering membuat seseorang terasa menyenangkan dalam pergaulan adalah kemampuannya membawa diri. Ia memahami kapan perlu berbicara dan kapan lebih baik mendengarkan, mampu menempatkan diri dalam berbagai situasi, menjaga kenyamanan orang lain tanpa terkesan dibuat-buat, serta menunjukkan sikap yang tenang dan penuh penghargaan.

Dalam tradisi Prancis, kemampuan semacam ini dikenal sebagai savoir-vivre, yakni seni menjalani kehidupan dan berinteraksi dengan orang lain secara pantas serta beradab di ruang sosial. Ross E. Dunn (2011)—dalam bukunya berjudul Petualangan Ibnu Battuta—menggambarkan lingkungan Tangier tempat Ibn Battuta tumbuh pada abad ke-14, dengan menunjukkan bahwa pembentukan pribadi dalam masyarakat kota tidak hanya bertumpu pada ilmu, tetapi juga pada adab pergaulan.

Orang tetap tampak sopan, tahu kapan tersenyum, mengangguk, atau memilih diam. Namun, perlahan, daya kritisnya menghilang. Keberatan hanya berani diucapkan ketika penguasa tidak ada, sementara di hadapannya semua berubah menjadi persetujuan. Bentuknya bukan penjilatan yang kasar dan terang-terangan, melainkan kepatuhan yang tampil rapi melalui bahasa halus, gestur hormat, dan kesiapan untuk selalu berkata “siap”.

Maka dari itu, ABS bukan semata persoalan bawahan yang menjilat. Ia adalah hubungan dua arah yang sama-sama dipelihara. Penguasa senang dibenarkan, sementara bawahan merasa aman ketika membenarkan. Dalam relasi semacam ini, kritik tidak hilang karena orang berhenti berpikir, tetapi karena semua orang belajar bahwa berpikir terlalu jujur dapat membahayakan posisi.

Sopan santun tetap diperlukan untuk menjaga hubungan sosial. Namun nilainya hilang ketika ia dipakai untuk menyembunyikan ketakutan, membungkam kebenaran, atau menjaga diri dari risiko berpikir terlalu jujur. Pada akhirnya, ABS tampil sebagai savoir-vivre, memakai bahasa kesopanan, gestur penghormatan, dan wajah kedewasaan sosial, tetapi di dalamnya tersimpan kepatuhan yang sudah kehilangan keberanian moral.

Kesimpulan