Scroll to read post

Rupiah Terus Melemah: Pengusaha Tekan Biaya Operasional dan Batasi Ekspansi

Rupiah Terus Melemah: Pengusaha Tekan Biaya Operasional dan Batasi Ekspansi
Rupiah Terus Melemah: Pengusaha Tekan Biaya Operasional dan Batasi Ekspansi
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 15 Mei 2026 | Pelaku usaha di Indonesia menghadapi tantangan besar akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia, Shinta Kamdani, tekanan terhadap rupiah merupakan bagian dari dinamika global yang lebih luas. Kenaikan yield US Treasury dan eskalasi perang geopolitik telah mendorong perpindahan aliran modal global ke aset berbasis dolar AS, sehingga berdampak pada banyak negara berkembang, seperti Indonesia.

Pelemahan rupiah dianggap sebagai guncangan eksternal yang memperbesar tekanan terhadap struktur biaya dan arus kas perusahaan. Dengan sekitar 70 persen bahan baku manufaktur berasal dari luar negeri, industri nasional yang masih sangat bergantung pada bahan baku impor menghadapi kesulitan besar. Saat ini, sektor yang paling rentan mencakup industri petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, serta manufaktur berbasis energi yang memiliki ketergantungan impor tinggi.

Pengusaha harus menerapkan strategi yang lebih hati-hati dan berbasis penyesuaian risiko dan prudent. Pendekatan selective growth menjadi pilihan, di mana ekspansi tetap dilakukan tetapi lebih selektif dengan mempertimbangkan prospek permintaan, efisiensi biaya, serta kepastian imbal hasil investasi. Investasi yang bersifat lebih spekulatif atau sangat bergantung pada kondisi eksternal cenderung ditunda.

Pelaku usaha juga memperkuat penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging terhadap fluktuasi kurs serta menata kembali struktur utang agar lebih seimbang antara rupiah dan valuta asing. Efisiensi melalui rasionalisasi belanja modal, optimalisasi modal kerja, dan peningkatan produktivitas menjadi prioritas. Selain itu, diversifikasi pemasok dan upaya substitusi impor mulai dilakukan, meskipun kemampuan substitusi domestik saat ini masih terbatas di banyak sektor.

Shinta Kamdani menilai sinergi antara kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil menjadi sangat penting di tengah kuatnya tekanan eksternal dan terbatasnya ruang pelonggaran kebijakan. Dunia usaha pada prinsipnya tetap berkomitmen untuk menjaga resiliensi, sekaligus menangkap peluang secara selektif, dengan pendekatan yang terukur dan kolaborasi kebijakan yang kuat.