bisnis.laksamana.id – 17 Juni 2026 | Malam 1 Suro adalah hari yang penuh makna bagi masyarakat Yogyakarta, terutama dalam tradisi Mubeng Beteng. Berjalan kaki mengelilingi benteng keraton dalam keheningan adalah salah satu rangkaian peringatan yang paling menarik perhatian. Ribuan orang berpartisipasi dalam prosesi ini, yang tidak hanya sekadar berjalan kaki, tapi juga sarana untuk melakukan introspeksi dan evaluasi diri.
KRT. Wijayapamungkas dari Paguyuban Abdi Dalem menjelaskan bahwa makna “hening” dalam tradisi ini bukan berarti pasif atau sekadar tidak berbicara. Keheningan justru menjadi ruang bagi setiap peserta untuk merenungkan perjalanan hidup, mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan, serta berupaya memperbaiki kesalahan yang pernah dibuat.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, Mubeng Beteng tetap menjadi pengingat pentingnya meluangkan waktu untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam diri, dan memperbaiki langkah untuk menjalani kehidupan yang lebih baik ke depannya.
Bagi masyarakat Jawa, malam 1 Suro memiliki makna spiritual yang mendalam. Oleh karena itu, Mubeng Beteng bukan dipandang sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan sebagai momentum untuk introspeksi, membersihkan batin, memohon keselamatan, serta memulai tahun baru dengan niat dan perilaku yang lebih baik.
Tahun ini, Mubeng Beteng kembali menjadi salah satu rangkaian peringatan malam 1 Suro yang menarik perhatian masyarakat di Yogyakarta. Ribuan peserta berjalan mengelilingi kawasan Benteng Keraton Yogyakarta dalam suasana hening tanpa percakapan, sebagai bagian dari ritual yang dikenal sebagai Tapa Bisu Mubeng Beteng.
Melalui prosesi berjalan kaki mengelilingi benteng keraton, masyarakat diajak untuk menata kembali pikiran dan batin menjelang pergantian tahun dalam penanggalan Jawa. Nilai-nilai introspeksi, mawas diri, dan pengendalian diri menjadi pesan utama yang ingin disampaikan melalui tradisi yang telah berlangsung turun-temurun ini.
Tradisi Mubeng Beteng merupakan salah satu rangkaian peringatan malam 1 Suro yang menarik perhatian masyarakat di Yogyakarta. Tahun ini, ribuan peserta berjalan mengelilingi kawasan Benteng Keraton Yogyakarta dalam suasana hening tanpa percakapan, sebagai bagian dari ritual yang dikenal sebagai Tapa Bisu Mubeng Beteng.
Melalui prosesi berjalan kaki mengelilingi benteng keraton, masyarakat diajak untuk menata kembali pikiran dan batin menjelang pergantian tahun dalam penanggalan Jawa. Nilai-nilai introspeksi, mawas diri, dan pengendalian diri menjadi pesan utama yang ingin disampaikan melalui tradisi yang telah berlangsung turun-temurun ini.









