bisnis.laksamana.id – 22 Mei 2026 | Di tengah zaman yang serba rasional, ada satu tradisi yang masih berdiri teguh di sudut Banyumas: Cowongan. Tradisi ini tidak hanya tentang meminta hujan, tetapi juga tentang cara manusia memaknai alam dan berdamai dengan keterbatasan. Mbah Titut Edi Purwanto, seorang tokoh yang akrab disapa Mbah Titut, telah menghidupkan kembali Cowongan sebagai seni pertunjukan yang menyimpan ingatan kolektif tentang cara manusia memaknai alam.
Cowongan berakar dari masa paceklik, saat hujan menjadi sesuatu yang dinanti dengan penuh pergulatan batin. Dalam ritualnya, masyarakat tidak sekadar "meminta hujan", tetapi juga berdialog dengan kehidupan melalui simbol-simbol sederhana seperti siwur (gayung), irus (centong sayur), hingga batok kelapa yang dirangkai menyerupai sosok seorang putri. Dari benda-benda dapur yang akrab dengan keseharian inilah, lahirlah sebuah doa yang dipentaskan.
Mbah Titut memandang bahwa ilmu pengetahuan sejati berakar pada kemampuan manusia untuk berkaca pada alam. Baginya, pengetahuan tidak berdiri semata dari akal yang bekerja sendiri, tetapi juga dari perjumpaan antara akal budi dan kesadaran terhadap semesta yang terus berbicara dalam diamnya. Langit, menurut Mbah Titut, tidak hanya membentang di atas kepala, tetapi juga hadir di dalam diri manusia sebagai ruang sunyi yang perlu dibaca dan dipahami.
Mbah Titut juga mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk duniawi untuk melihat tanda-tanda alam. Menurutnya, setiap fenomena—mulai dari cuaca yang cerah hingga gunung yang menjulang tinggi—adalah pesan yang perlu dibaca dengan kesadaran spiritual. Ia memaknai ritual pemanggil hujan melalui filosofi "aksara langit", layaknya menafsir kisah Dewi Masinten. Dalam cerita rakyat, sang dewi memang digambarkan sebagai penghuni sumber air (sendang) atau hutan yang lembap. Namun bagi Mbah Titut, ia melampaui figur mitologis; Dewi Masinten adalah personifikasi air hujan dan simbol kesuburan yang menghidupkan harapan.
Mbah Titut juga teguh menjaga nyala kesenian cowongan. Namun, jalan yang ia tempuh tidak selalu mulus. Di mata sebagian masyarakat modern, praktik seperti ini kerap dipandang sebelah mata. Stigma mistis hingga dianggap using tak jarang menghampiri. Namun bagi Mbah Titut, penolakan justru menandakan bahwa seni tersebut masih hidup.
Bagi Mbah Titut, seni tradisi memang seharusnya "mengganggu" kenyamanan berpikir manusia modern agar mereka mau menoleh kembali pada akar budaya dan nilai-nilai yang mulai terlupakan. Melalui perjalanan panjangnya, Mbah Titut menyisipkan pesan sederhana, tetapi mendalam bagi generasi muda: pentingnya menyeimbangkan kecerdasan rasional dengan kecerdasan spiritual.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, kemampuan untuk merenung dan membaca "aksara langit" menjadi cara agar manusia tidak kehilangan makna. Seperti yang ia yakini, seni bukan sekadar tontonan, melainkan juga pengalaman batin yang mengusik, menggugat, dan perlahan mengubah cara kita memaknai kehidupan.
Tradisi Cowongan Banyumas yang dihidupkan kembali oleh Mbah Titut Edi Purwanto adalah contoh nyata bahwa dalam kehidupan modern, kita masih dapat menemukan makna dan keindahan dalam hal-hal yang sederhana. Dengan cara ini, kita dapat tetap menjaga hubungan dengan semesta dan berdamai dengan keterbatasan.









