Scroll to read post

Film Toy Story 5: Mengangkat Isu Gadget dan Body Boundaries untuk Anak

Film Toy Story 5: Mengangkat Isu Gadget dan Body Boundaries untuk Anak
Film Toy Story 5: Mengangkat Isu Gadget dan Body Boundaries untuk Anak
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 05 Juli 2026 | Acara screening film Toy Story 5 di Gandaria City, Jakarta Selatan, Senin (15/6/2026), menjadi ajang yang tepat untuk menyampaikan pesan penting tentang gadget dan body boundaries kepada anak-anak. Film ini tidak hanya membawa nostalgia, tetapi juga mengangkat isu yang dekat dengan kehidupan anak masa kini.

Toy Story 5 berfokus pada Bonnie yang berusia 8 tahun dan mulai kesulitan berteman karena teman-temannya sudah menggunakan LilyPad, sebuah tablet yang populer di lingkungan mereka. Orang tua Bonnie akhirnya memberikan perangkat tersebut agar ia tidak merasa tertinggal, namun keputusan ini justru membawa tantangan baru dalam kehidupannya.

Di sisi lain, Woody, Buzz, Jessie, dan para mainan mulai merasa peran mereka tergeser oleh kehadiran teknologi. Film ini menggambarkan bagaimana anak menghadapi perubahan zaman, tekanan sosial, serta rasa takut tertinggal dari teman sebaya.

Setiap karakter di Toy Story 5 memiliki pesan parenting yang dapat dipahami oleh anak-anak. Jessie digambarkan sebagai sosok yang penuh semangat, tetapi mudah panik karena takut Bonnie melupakan mainan kesayangannya. Dari Jessie, anak bisa belajar bahwa emosi seperti marah sering muncul dari rasa sayang dan takut kehilangan.

Buzz menjadi karakter yang selalu hadir membantu teman-temannya. Ia menunjukkan arti kesetiaan dan pentingnya menjadi teman yang dapat diandalkan dalam situasi sulit. Woody hadir sebagai sosok yang tenang dan rasional, tidak terburu-buru mengambil keputusan, tetapi terlebih dahulu memahami situasi yang terjadi.

LilyPad menjadi simbol teknologi dalam cerita ini. Film ini tidak menempatkan gadget sebagai musuh, tetapi menekankan pentingnya pendampingan orang tua dalam penggunaan teknologi oleh anak. Teknologi boleh maju, tapi dunia nyata tetap penting.

Karakter Blaze menunjukkan bahwa bermain dengan mainan klasik tetap relevan dan tidak membuat anak tertinggal zaman. Dari sini, Bonnie belajar bahwa bermain sesuai usia bukan sesuatu yang harus dianggap memalukan. Pertemanan Bonnie dan Blaze justru berawal dari game online, lalu berkembang menjadi interaksi di dunia nyata.

Psikolog Klinis Gita Aulia Nurani, M.Psi, Psikolog, menekankan bahwa orang tua tidak perlu buru-buru mengalihkan perhatian anak jika muncul pertanyaan terkait adegan mesra ciuman antara Buzz dan Jessie di akhir film ini. Jika anak bertanya, jawaban sebaiknya sederhana dan sesuai usia anak.

Oleh karena itu, film Toy Story 5 dapat menjadi acuan yang baik bagi orang tua untuk membantu anak-anak mereka menghadapi perubahan zaman dan mengembangkan kemampuan untuk menghadapi tekanan sosial.