Scroll to read post

Membaca 1984 di 2026: Kekuasaan Mengincar Pikiran dan Memonopoli Kebenaran

akbar Laksamana
Membaca 1984 di 2026: Kekuasaan Mengincar Pikiran dan Memonopoli Kebenaran
Membaca 1984 di 2026: Kekuasaan Mengincar Pikiran dan Memonopoli Kebenaran
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 23 Juni 2026 | Saya terlahir pada tahun 1984, tetapi baru pada tahun 2026 saya membaca novel salah satu mahakarya George Orwell. Saya merasa horor terbesar dalam novel ini terletak di tempat lain, bukan di Bung Besar atau Polisi Pikiran, melainkan di O’Brien. Melalui tokoh ini Orwell membedah psikologi kekuasaan secara telanjang.

O’Brien tidak ingin Winston Smith, karakter utama, hanya patuh, tapi percaya dan mencintai Big Brother. Ia hadir sebagai figur yang dapat dipercaya, tapi jebakan bekerja di situ. Winston memasuki proses itu bukan sebagai orang tak berdaya, tapi sebagai seseorang yang masih percaya ada pihak dalam sistem yang dapat dipercaya.

Orwell menulis 1984 pada akhir 1940-an ketika dunia baru saja lolos dari cengkeraman fasisme Hitler. Kemudian, konferensi Teheran (1943) membolehkan para pemenang perang membagi dunia menjadi wilayah pengaruh kekuasaan. Kemudian, tahun 1984, di masa depan, yang Orwell bayangkan sebagai puncak kemenangan totalitarianisme.

George Orwell menulis novel 1984 pada usia 43 saat sedang sakit tuberkolosis dan mengasingkan diri ke Pulau Jura yang dingin di pesisir Skotlandia. Di fase matang kehidupannya itu, ia menyusun novel ini bukan sebagai ramalan mistis, melainkan sebuah peringatan.

Pengalamannya menyaksikan propaganda, pengkhianatan politik, dan manipulasi fakta membuatnya khawatir terhadap satu hal mendasar: bagaimana jika suatu hari manusia kehilangan kemampuan membedakan kebenaran? Pertanyaan itu membuat 1984 tetap ‘hidup’ hingga hari ini.

Orwell tidak selalu benar. Membaca 1984 secara serius juga berarti berani mengkritiknya. Salah satu kelemahan Orwell adalah pandangannya yang sangat pesimistis terhadap manusia. Dalam dunia 1984, kekuasaan tampak hampir tak terkalahkan. Winston dihancurkan. Julia dikhianati. Harapan nyaris tidak tersisa.

Sejarah ternyata tidak berjalan sepenuhnya seperti itu. Rezim-rezim otoriter memang pernah muncul dan menimbulkan penderitaan luar biasa. Namun, sejarah juga memperlihatkan bahwa manusia mampu melawan. Gerakan buruh, masyarakat sipil, jurnalis, akademisi, aktivis, dan warga biasa berkali-kali membuktikan bahwa kekuasaan tidak selalu menang.

Orwell juga tampak kurang adil dalam menggambarkan kaum pekerja, atau The Proles. Ia menempatkan mereka sebagai massa yang pasif dan tidak berdaya, padahal banyak perubahan politik besar dalam sejarah justru lahir dari gerakan akar rumput yang terorganisasi.

Kritik feminis juga memiliki dasar yang kuat. Julia, satu-satunya tokoh perempuan utama dalam novel, tidak memperoleh kedalaman intelektual yang sama dengan Winston. Pemberontakannya lebih banyak digambarkan sebagai naluri personal daripada kesadaran politik.

Orwell mungkin tidak berhasil meramalkan masa depan secara tepat. Tahun 1984 datang dan pergi tanpa Oceania, tanpa Big Brother, dan tanpa Kementerian Kebenaran. Namun, Orwell berhasil mengidentifikasi sesuatu yang lebih mendasar dan lebih tahan lama, yaitu: kecenderungan kekuasaan untuk mengendalikan bahasa, memonopoli kebenaran, dan mengurangi kapasitas manusia untuk berpikir secara merdeka.

Bagi mereka yang bekerja di bidang komunikasi dan kebijakan publik, peringatan ini terasa sangat relevan. Sebab kebijakan tidak pernah hadir dalam ruang hampa. Ia selalu dikomunikasikan melalui bahasa, data, indikator, laporan, pidato, siaran pers, konten-konten di media sosial, serta berbagai bentuk narasi di berbagai platform dan aktivitas yang membentuk cara masyarakat memahami realitas.

Dalam sektor pembangunan, godaan itu selalu ada. Kita dapat tergoda memilih data yang mendukung cerita yang ingin disampaikan, menggunakan istilah-istilah teknokratis yang sulit dipahami publik, atau mengukur keberhasilan dari seberapa baik persepsi dikelola alih-alih seberapa jauh masalah benar-benar terselesaikan.

Sebab kebijakan tidak pernah hadir dalam ruang hampa. Ia selalu dikomunikasikan melalui bahasa, data, indikator, laporan, pidato, siaran pers, konten-konten di media sosial, serta berbagai bentuk narasi di berbagai platform dan aktivitas yang membentuk cara masyarakat memahami realitas.