bisnis.laksamana.id – 12 Mei 2026 | Hari ini, 12 Mei 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) mengalami penurunan yang signifikan, menembus angka Rp 17.500 per USD. Pembukaan perdagangan menunjukkan bahwa rupiah bergerak melemah sebesar 69 poin atau 0,40 persen, berada di level Rp 17.483 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.414 per USD. Pada pukul 10.20 WIB, kurs rupiah bahkan tercatat di angka Rp 17.510 per USD.
Menurut analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, salah satu penyebab utama dari pelemahan rupiah ini adalah meredupnya harapan akan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan geopolitik ini telah memicu kekhawatiran di pasar, sehingga investor cenderung mengalihkan aset mereka ke mata uang yang lebih stabil.
Sementara itu, di pasar perbankan, harga jual dolar AS semakin melambung tinggi. Berdasarkan data Bloomberg, harga dolar di sejumlah bank, termasuk HSBC Indonesia, tercatat di atas Rp 17.700, dengan harga untuk mekanisme transfer sebesar Rp 17.700 dan untuk tunai sebesar Rp 17.775 per dolar AS. Bank Central Asia (BCA) juga mencatatkan harga jual dolar AS di TT counter dan Bank Notes sebesar Rp 17.660, sementara di DBS Indonesia, harga jual tercatat sebesar Rp 17.598.
Dalam beberapa bank, harga jual dolar AS bahkan mencapai Rp 17.600 di Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Rp 17.560 di Bank Mandiri. Namun, ada juga bank seperti Permata Bank yang masih menetapkan harga di bawah Rp 17.500, yaitu sebesar Rp 17.450.
Dengan kondisi ini, para pelaku pasar dan analis ekonomi mulai memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah dapat terancam melemah lebih jauh. Beberapa prediksi menunjukkan bahwa rupiah bisa jatuh ke level Rp 17.430. Tensi geopolitik global dan ketidakpastian ekonomi domestik menjadi faktor utama yang memicu fluktuasi ini.
Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia yang tergerus juga menjadi perhatian. Penurunan cadangan devisa dapat memperburuk kondisi nilai tukar rupiah, mengingat cadangan devisa berperan penting dalam menjaga stabilitas mata uang. Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi situasi ini, termasuk intervensi pasar jika diperlukan.
Investor saat ini disarankan untuk tetap waspada dan memantau perkembangan terbaru, terutama terkait isu geopolitik yang dapat mempengaruhi pasar keuangan global. Mempertimbangkan faktor-faktor ini, pelaku pasar perlu menyesuaikan strategi investasi mereka agar dapat mengantisipasi potensi risiko yang lebih besar.








