Scroll to read post

Krisis Iklim dan Energi: Ancaman Ganda bagi Indonesia dan Dunia

Ngasari Tisa Tisa
Krisis Iklim dan Energi: Ancaman Ganda bagi Indonesia dan Dunia
Krisis Iklim dan Energi: Ancaman Ganda bagi Indonesia dan Dunia
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 13 Mei 2026 | Krisis iklim tengah menjadi ancaman nyata bagi jutaan anak di Indonesia, dengan dampak yang lebih besar dirasakan oleh anak perempuan. Berdasarkan data Children’s Climate Risk Index 2026, Indonesia menempati urutan ke-46 dari 163 negara, menunjukkan tingginya paparan terhadap guncangan iklim. Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, menyatakan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, tetapi realitas yang dihadapi saat ini.

Di Jakarta, anak-anak hidup dalam kerentanan berlapis akibat banjir musiman, polusi udara, dan kondisi lingkungan yang tidak stabil. Anak perempuan, khususnya, menghadapi risiko putus sekolah dan kekerasan dalam situasi krisis. UNICEF mencatat bahwa pada November 2025, banjir parah di beberapa provinsi Sumatera berdampak pada 3,5 juta orang, dengan sepertiga dari mereka adalah anak-anak.

Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah serius dengan meratifikasi beberapa perjanjian internasional terkait iklim, seperti United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) dan Perjanjian Paris. Namun, Woro menekankan pentingnya dukungan seluruh pihak, termasuk generasi muda, dalam membangun ketahanan iklim.

Di sisi lain, krisis energi juga mengancam stabilitas global. Perdana Menteri India, Narendra Modi, mengimbau warganya untuk menghemat BBM akibat pasokan minyak yang menipis. Konflik di Timur Tengah, yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz, menghambat pasokan minyak dari wilayah tersebut. Hal ini menyebabkan lonjakan harga BBM di India dan memaksa pemerintah untuk mendorong penggunaan transportasi umum dan kendaraan listrik.

Sementara itu, perusahaan energi Saudi Aramco memperingatkan bahwa krisis minyak global dapat berlangsung hingga 2027 jika Selat Hormuz tetap ditutup. Gangguan ini telah menghilangkan satu miliar barel minyak dari pasar dan akan terus menyebabkan kerugian besar setiap pekan.

Krisis iklim dan energi ini menggambarkan betapa pentingnya tindakan segera dan kolektif dari semua pihak untuk mengatasi dampak yang semakin nyata dan meluas ini.