bisnis.laksamana.id – 12 Mei 2026 | Lomba Cerdas Cermat yang diselenggarakan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) di Kalimantan Barat (Kalbar) baru-baru ini menuai kritik tajam dari warganet. Kejadian ini berawal ketika para peserta dan penonton merasa adanya ketidakadilan dalam penilaian yang dilakukan oleh dewan juri.
Acara yang diadakan dengan tujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang fungsi dan tugas MPR tersebut seharusnya menjadi ajang positif. Namun, insiden di mana dewan juri dinilai tidak konsisten dalam memberikan penilaian terhadap jawaban peserta, mengundang kontroversi.
Beberapa pengguna media sosial mengungkapkan kekecewaannya melalui unggahan di platform-platform seperti Twitter dan Instagram. Mereka merasa bahwa penilaian yang tidak objektif dapat merusak integritas acara dan menimbulkan kekecewaan di kalangan peserta yang telah berusaha keras untuk memberikan jawaban terbaik.
Dalam aksi protesnya, warganet mengunggah video dan foto dari acara tersebut, menunjukkan momen-momen di mana jawaban peserta tampak jelas dan layak mendapat penilaian tinggi, tetapi justru dinilai rendah oleh juri. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai kriteria penilaian yang diterapkan dan apakah juri mampu menjaga netralitas dalam tugas mereka.
Sejumlah peserta yang diwawancarai juga mengungkapkan rasa frustrasi mereka. Salah satu peserta, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan, “Kami sudah mempersiapkan diri dengan baik, mengikuti berbagai pelatihan, dan kemudian hasilnya tidak sesuai harapan hanya karena penilaian yang tidak konsisten. Ini sangat mengecewakan.”
Di sisi lain, pihak penyelenggara lomba berupaya untuk merespons kritik tersebut. Mereka mengklaim bahwa penilaian dilakukan secara profesional, namun mengakui adanya beberapa masalah dalam komunikasi antara juri dan peserta. Dalam sebuah pernyataan resmi, mereka mengungkapkan niat untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses penilaian dan akan mengambil langkah-langkah perbaikan untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Walaupun demikian, reaksi negatif dari warganet terus mengalir, dan hal ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin peduli terhadap transparansi dan keadilan dalam setiap kompetisi, terutama yang melibatkan lembaga negara. Sejumlah netizen bahkan mendesak agar ada reformasi dalam sistem penilaian lomba cerdas cermat yang melibatkan lebih banyak pihak untuk menjamin objektivitas.
Kontroversi ini juga memperlihatkan bagaimana media sosial dapat menjadi platform yang kuat bagi masyarakat untuk menyuarakan pendapat mereka. Dalam hal ini, kritik yang disampaikan oleh warganet tidak hanya berfokus pada satu lomba saja, tetapi juga menggugah perdebatan lebih luas mengenai penilaian dalam berbagai kompetisi yang melibatkan institusi pemerintah.
Dengan adanya kritik ini, diharapkan penyelenggara lomba dan lembaga terkait dapat mengambil pelajaran berharga untuk meningkatkan kualitas dan kredibilitas setiap acara yang mereka adakan. Keadilan dalam penilaian adalah hal yang fundamental untuk menjaga semangat kompetisi yang sehat dan fair play.









