Scroll to read post

Anak Selalu Terluka, Kita Selalu Abai: Membangun Kesadaran Kolektif untuk Menghentikan Kekerasan Terhadap Anak

Rosmiya Patricea
Anak Selalu Terluka, Kita Selalu Abai: Membangun Kesadaran Kolektif untuk Menghentikan Kekerasan Terhadap Anak
Anak Selalu Terluka, Kita Selalu Abai: Membangun Kesadaran Kolektif untuk Menghentikan Kekerasan Terhadap Anak
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 15 Juni 2026 | Tiap tahun, kita disuguhi laporan terkait jumlah kasus kekerasan terhadap anak. Namun, apakah data itu hanya sebatas laporan atau menjadi bagian dari usaha sadar untuk meminimalisir jumlah kasusnya? Pertanyaan ini menjadi penting karena kekerasan terhadap anak masih terus berulang, tetapi keresahan kita seperti tidak pernah benar-benar berubah menjadi gerakan yang menghujam.

Sebenarnya, tragedi kekerasan terhadap anak tidak bisa dipandang dari sumber yang tunggal. Banyak zona yang terlibat dan bisa jadi saling memberikan kontribusi sehingga para pelaku merasa aman. Bahkan, di tengah masih rapuhnya aspek hukum di negara ini, pelaku semakin merasa aman.

Padahal, anak-anak itu sudah memberikan sinyal agar segera ditolong, tetapi sering kali karena rasa takut dan merasa tidak dipercaya. Ada juga yang malah aduannya dianggap berlebihan. Jadilah mereka takut disalahkan. Ketakutan-ketakutan itulah yang akhirnya membuat banyak luka tumbuh diam-diam tanpa pernah benar-benar sembuh.

Sedihnya, ada di antara mereka yang akhirnya terbiasa menikmati luka-luka itu dan kelak menjalarkannya kepada adik-adik kelasnya. Dengan kondisi yang demikian, apakah cukup hanya dengan mendeklarasikan kondisi darurat? Keresahan kita seharusnya tidak lagi diwujudkan sebatas simpati di media sosial.

Kita perlu membangun ulang budaya pengasuhan dan pendidikan di tengah masyarakat. Orang tua, guru, dan lingkungan sosial harus mulai meninggalkan pola-pola kekerasan yang selama ini diwariskan atas nama didikan. Selain itu, budaya pengasuhan dan pendidikan harus dibangun serta dijaga secara kolektif.

Kita harus sadar bahwa kekerasan terhadap anak bukan lagi sekadar berita kriminal yang datang silih berganti. Tragedi demi tragedi ini sebenarnya telah berubah menjadi cermin besar yang memperlihatkan wajah kegagalan kita menjaga kemanusiaan.

Jika keresahan ini hanya berhenti sebagai percakapan sesaat, maka kita sedang membiarkan anak-anak tumbuh dalam dunia yang kehilangan rasa aman. Namun, jika keresahan ini mampu kita ubah menjadi keberanian untuk memperbaiki sistem, memperkuat hukum, dan memanusiakan kembali anak di ruang pendidikan dan pengasuhan.

Kita masih memiliki harapan untuk menyelamatkan masa depan anak-anak itu sekaligus masa depan bangsa ini.