bisnis.laksamana.id – 10 Mei 2026 | Universitas Airlangga (UNAIR) terus berperan aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kesehatan di Indonesia, terutama dalam menghadapi isu kesehatan global seperti hantavirus. Dalam sebuah konferensi baru-baru ini, dr. Dominicus Husada, seorang Guru Besar dari UNAIR, mengungkapkan bahwa hantavirus bukanlah virus baru di Indonesia dan telah terdeteksi sejak lama dengan risiko penularan yang relatif rendah bagi masyarakat.
Dalam pemaparannya, Dominicus menjelaskan bahwa hantavirus umumnya ditularkan melalui hewan pengerat, khususnya tikus. Penularan paling sering terjadi melalui partikel virus yang terdapat dalam urine, kotoran, atau air liur tikus. Oleh karena itu, risiko paparan meningkat di ruang tertutup yang terkontaminasi. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, tetapi tidak perlu panik berlebihan.
Hantavirus memang kembali menjadi perhatian dunia internasional, tetapi menurut data Kementerian Kesehatan, Indonesia telah mencatat keberadaan virus ini sejak 2015 dengan total 23 kasus yang tersebar di sembilan provinsi. Jakarta dan Yogyakarta merupakan daerah dengan kasus terbanyak, masing-masing enam kasus.
Sementara itu, di bidang inovasi dan teknologi, UNAIR juga berperan dalam mendukung transformasi digital di sektor publik. Dalam sebuah acara yang diadakan oleh PT Jasa Marga, Direktur Utama Rivan A. Purwantono menekankan pentingnya inovasi seperti aplikasi Travoy dalam meningkatkan pengalaman pengguna jalan tol. Travoy yang merupakan hasil karya anak bangsa diharapkan dapat menyediakan informasi yang diperlukan bagi pengguna jalan untuk membuat keputusan yang lebih baik selama perjalanan.
Rivan menegaskan bahwa lebih dari 3,5 juta kendaraan melintasi jalan tol Jasa Marga setiap harinya, dan perusahaan melayani sekitar 1,3 miliar kendaraan setiap tahunnya. Oleh karena itu, masukan dari generasi muda, termasuk mahasiswa dari perguruan tinggi seperti UNAIR, sangat penting untuk pengembangan dan transformasi perusahaan.
Dalam konteks pendidikan tinggi, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof Brian Yuliarto, mengungkapkan pentingnya menyelaraskan riset perguruan tinggi dengan target nasional. Ia mendorong universitas untuk berkolaborasi dengan industri dan pemerintah agar hasil riset dapat diimplementasikan dengan lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
UNAIR, bersama dengan institusi lainnya seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Negeri Surabaya, dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, diharapkan dapat berkontribusi dalam mengatasi tantangan nasional melalui penelitian yang inovatif dan aplikatif.
Secara keseluruhan, Universitas Airlangga tidak hanya berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan riset, tetapi juga aktif berpartisipasi dalam memecahkan masalah kesehatan dan sosial yang dihadapi bangsa. Melalui kolaborasi dan inovasi, UNAIR berupaya menjadi garda terdepan dalam menciptakan solusi yang berdampak positif bagi masyarakat.









