Scroll to read post

BPH Migas Dorong Subsidi CNG untuk Rumah Tangga, Alternatif Hemat LPG

Radi Geary
BPH Migas Dorong Subsidi CNG untuk Rumah Tangga, Alternatif Hemat LPG
BPH Migas Dorong Subsidi CNG untuk Rumah Tangga, Alternatif Hemat LPG
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 10 Mei 2026 | Dalam upaya mengurangi ketergantungan pada impor Liquefied Petroleum Gas (LPG), Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mendukung penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai sumber energi alternatif untuk rumah tangga di Indonesia. Langkah ini bertujuan untuk meringankan beban fiskal negara dan menyediakan pilihan energi yang lebih beragam bagi masyarakat.

Anggota Komite BPH Migas, Fathul Nugraha, menjelaskan bahwa optimalisasi stasiun induk CNG dan pembangunan infrastruktur mini Liquefied Natural Gas (LNG) adalah langkah penting untuk membuka lebih banyak pilihan energi. “Jadi, tidak terbatas LPG saja, tetapi ada pilihan menggunakan jaringan gas kota (city gas) berbasis CNG dan LNG,” ujarnya dalam sebuah keterangan resmi.

Pada saat ini, kebutuhan energi rumah tangga di Indonesia sebagian besar masih mengandalkan LPG bersubsidi. Fathul mengungkapkan bahwa 81 persen dari total kebutuhan LPG masyarakat masih berasal dari impor. Dengan demikian, pemanfaatan CNG diharapkan dapat mengurangi angka tersebut. CNG sendiri sudah mulai digunakan di sektor komersial seperti hotel dan restoran.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, pemerintah menargetkan pembangunan jaringan gas bumi untuk rumah tangga mencapai 350 ribu sambungan rumah (SR) pada tahun 2029. Untuk mencapai target ini, BPH Migas menilai perlu adanya percepatan regulasi terkait stasiun induk CNG dan terminal mini-LNG agar investasi dapat lebih cepat masuk.

Model pembiayaan Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) juga dianggap penting untuk mendukung pembangunan infrastruktur, terutama di wilayah Indonesia Timur yang memiliki tantangan geografis. Konversi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) menjadi stasiun induk dan penggunaan mini-LNG untuk penyaluran jargas non-pipa adalah beberapa langkah yang akan diambil.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, menambahkan bahwa peta jalan (roadmap) untuk produksi CNG tabung 3 kg sedang disiapkan, meskipun belum bisa diumumkan kepada publik. Diharapkan, setelah kajian selesai, produksi masif CNG dapat dilakukan. Laode menekankan pentingnya uji keselamatan untuk memastikan tabung CNG aman sebelum didistribusikan secara luas.

Pemerintah memproyeksikan bahwa dengan harga yang sama dengan LPG 3 kg, CNG dapat menghemat subsidi energi hingga 30 persen. Hal ini menjadikan CNG sebagai alternatif yang tidak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga lebih efisien dari segi biaya.

Dengan berbagai langkah strategis ini, diharapkan penggunaan CNG dapat menjadi solusi yang efektif untuk mengurangi ketergantungan pada LPG impor, sekaligus memanfaatkan sumber daya gas bumi nasional secara optimal.