bisnis.laksamana.id – 24 Juni 2026 | Pernahkah kamu melihat teman yang mengaku ‘belum belajar’ di grup chat, tapi ujung-ujungnya mendapat nilai ujian nyaris sempurna? Ini adalah contoh nyata dari fenomena ‘si paling ambis’ yang telah menjadi label yang penuh dengan makna di kalangan pelajar. Label ini bukan hanya sekadar ejekan, tetapi juga merupakan hasil dari tekanan sosial yang dialami oleh individu-individu yang memiliki ambisi tinggi.
Mengapa kesan ‘santai’ yang dituntut oleh lingkungan? Sosiolog James S. Coleman dalam riset klasiknya menemukan bahwa pergaulan siswa membentuk sebuah subkultur yang nilai-nilainya sering kali bertabrakan dengan nilai akademik. Dalam bukunya, Coleman menegaskan bahwa subkultur remaja memberikan tarikan yang sangat kuat, mengalihkan energi anggota-anggotanya menjauh dari tujuan-tujuan pendidikan.
Label ‘ambis’ sebagai alat kontrol sosial juga tidak dapat dipungkiri. Cibiran seperti ‘si paling ambis’ atau ‘cari muka’ bukan hanya sekadar ejekan biasa, tetapi juga merupakan wujud kontrol sosial informal yang bertujuan agar individu yang terlalu menonjol kembali tunduk pada standar rata-rata kelompok. Sosiolog Peter L. Berger menjelaskan dinamika ini dengan sangat akurat bahwa cemoohan dan gosip adalah instrumen kontrol sosial yang paling kuat di dalam kelompok primer.
Jadi, mengapa kita harus mempertimbangkan untuk melawan label ‘ambis’? Memiliki ambisi adalah hak yang membanggakan dan harus dipertahankan. Kita harus berani meruntuhkan panggung sandiwara tersebut dan tidak terjebak dalam tekanan sosial yang tidak perlu. Kesuksesan masa depan kita ditentukan oleh kompetensinya sendiri, bukan oleh validasi dari teman tongkrongan yang menyuruh kita untuk sekadar ‘santai saja’. Kita harus memiliki keberanian untuk menjadi diri sendiri dan tidak terjebak dalam label-label yang tidak perlu.








