Scroll to read post

Apakah Bersyukur Berarti Tidak Boleh Sedih?

Apakah Bersyukur Berarti Tidak Boleh Sedih?
Apakah Bersyukur Berarti Tidak Boleh Sedih?
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 19 Juni 2026 | Pernahkah Anda merasa sedih atau kecewa karena suatu masalah, lalu saat cerita ke teman atau orang terdekat Anda, mereka mendengar kalimat "jangan sedih terus", "harus tetap positive thinking", atau "semua ada hikmahnya"? Saat ini, media sosial dipenuhi oleh berbagai konten tentang healing, self-love, dan positive vibes. Akhirnya, banyak orang mulai berlomba-lomba mengikuti tren tersebut agar terlihat tenang, kuat, dan selalu bahagia.

Tanpa disadari, kita menjadi terbiasa menolak atau menekan emosi negatif seperti sedih, marah, kecewa, dan lain-lain yang justru bisa jadi masalah. Ternyata, masalah ini berkaitan dengan fenomena psikologis yang disebut dengan spiritual bypass.

Spiritual bypass adalah kecenderungan seseorang menggunakan spiritualitas atau pemikiran positif untuk menghindari luka emosional dan masalah psikologis yang masih belum selesai. Jadi, walaupun di luar seseorang terlihat "baik-baik saja", tetapi dalamnya belum benar-benar memproses rasa sedih, marah, kecewa, atau emosi negatif lainnya.

Gimana sih cara kita tahu kalau kita mengalami spiritual bypass? Menurut Robert Augustus Masters, salah satu tanda utama spiritual bypass adalah adanya kebiasaan untuk menolak sisi "negatif" dalam diri kita.

Salah satu ciri spiritual bypass adalah ketika seseorang merasa harus selalu berpikir positif dalam setiap keadaan. Akhirnya, banyak orang yang memaksakan dirinya agar terlihat kuat dan tenang walaupun sebenarnya sedang terluka secara emosional. Misalnya, saat seseorang merasa sedih, ia akan langsung berkata pada dirinya sendiri bahwa ia tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan karena harus bersyukur.

Padahal, menurut Robert, emosi sebenarnya tidak bisa dibagi menjadi emosi "positif" atau "negatif" begitu saja. Emosi seperti sedih, marah, atau kecewa tetap merupakan bagian alami dari manusia yang bisa membantunya untuk memahami dirinya sendiri dan juga mengetahui batasan dirinya.

Jadi, masalahnya bukan pada emosinya, tetapi bagaimana seseorang bisa mengekspresikan dan juga memproses emosi tersebut. Banyak orang menggunakan teknik spiritual bypass seperti menggunakan kata-kata motivasi atau spiritual agar bisa menghindari rasa sakit emosional yang sebenarnya belum selesai.

Misalnya, seseorang memilih untuk memaksakan dirinya sendiri cepat healing, pura-pura baik-baik saja, atau terus mengatakan "aku gapapa" walaupun sebenarnya sedang merasakan lelah, sedih, atau kecewa. Akibatnya, emosi tersebut tidak benar-benar menghilang tetapi hanya dipendam.

Apakah semua emosi negatif itu buruk? Banyak orang menganggap emosi negatif itu harus segera dihilangkan. Padahal, rasa marah, sedih, takut, bahkan kecewa sebenarnya dapat membantu untuk memahami diri sendiri.

Dalam suatu penelitian, salah satu bentuk spiritual bypass adalah anger-phobia, yaitu dengan menganggap kemarahan sebagai emosi yang buruk atau tidak pantas untuk dimiliki. Robert juga menjelaskan bahwa dengan kita menjauhi emosi negatif justru membuat kita kehilangan kedekatan dengan diri kita sendiri.

Jadi, terkadang proses healing yang sebenarnya itu dimulai ketika kita berani untuk menerima rasa sedih, kecewa, marah, dan takut sebagai bagian alami dari diri kita sendiri.