bisnis.laksamana.id – 06 Juni 2026 | Kantor Moneter Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menyatakan bahwa perbankan Indonesia masih kuat dan tidak akan mengalami bank rush dalam masa krisis ekonomi saat ini. Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, menyampaikan bahwa ekonomi global masih dipengaruhi oleh gejolak geopolitik, harga minyak yang tinggi, dan penguatan indeks dolar AS. Hal ini meningkatkan volatilitas pasar keuangan global dan menekan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dian menekankan bahwa perbankan Indonesia memiliki ketahanan yang kuat dan tidak akan terpengaruh oleh pelemahan rupiah. Hingga April 2026, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio atau CAR) perbankan tercatat sebesar 23,97 persen, menunjukkan permodalan yang tetap terjaga pada level tinggi. Dari sisi kualitas aset, risiko kredit perbankan masih terkendali, dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang berada di level 2,17 persen atau masih di bawah ambang batas 3 persen.
Dian juga menambahkan bahwa OJK akan terus memantau perkembangan perbankan dan memastikan bahwa perbankan memiliki cadangan yang cukup untuk menghadapi kondisi ekonomi yang tidak stabil. Ia juga menekankan bahwa bank rush biasanya disebabkan oleh isu kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan dan bahwa OJK akan terus menjaga kepercayaan masyarakat.
Pelemahan rupiah juga dapat memiliki dampak positif, seperti meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia dan menarik wisatawan mancanegara. Namun, OJK tetap akan memantau dan mengevaluasi dampak pelemahan rupiah terhadap perbankan.
Di akhirnya, Dian menekankan bahwa efek langsung pelemahan rupiah terhadap stabilitas perbankan masih terbatas, tetapi apabila pelemahan rupiah berlangsung berkepanjangan, terdapat potensi tekanan terhadap debitur yang memiliki kewajiban atau eksposur dalam valuta asing.









