Scroll to read post

Wamenkes: Penularan Hantavirus Berbeda dengan COVID-19, Ini Penjelasannya

Radi Geary
Wamenkes: Penularan Hantavirus Berbeda dengan COVID-19, Ini Penjelasannya
Wamenkes: Penularan Hantavirus Berbeda dengan COVID-19, Ini Penjelasannya
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 12 Mei 2026 | Wakil Menteri Kesehatan Indonesia, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan bahwa hantavirus tidak menular dengan cara yang sama seperti COVID-19. Dalam acara kumparan Halal Forum 2025 di Jakarta, Dante menjelaskan bahwa hantavirus memiliki perantara atau reservoir berupa hewan pengerat, seperti tikus, yang dapat menjadi sumber penularan virus ini. Ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, terutama di daerah yang rawan banjir, untuk mencegah penularan hantavirus.

Dante menjelaskan, “Hantavirus memiliki reservoirnya sendiri, yaitu tikus. Lingkungan yang kotor dan banyak air kencing tikus, terutama saat banjir, dapat meningkatkan risiko penularan hantavirus.” Dalam kunjungannya ke UPTD Pelatihan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Dante juga membandingkan hantavirus dengan leptospirosis, penyakit yang serupa namun disebabkan oleh bakteri Leptospira.

Leptospirosis adalah infeksi bakteri yang dapat menular dari hewan ke manusia melalui urine tikus yang mencemari air, tanah, atau makanan. Dante menjelaskan bahwa meskipun jalur penularan kedua penyakit ini sama, yaitu melalui kontak dengan kotoran tikus, penyebabnya berbeda. “Hantavirus disebabkan oleh virus, sedangkan leptospirosis oleh bakteri. Jadi, pemeriksaan yang teliti perlu dilakukan untuk membedakan kedua penyakit ini,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dante mengungkapkan bahwa terdapat dua jenis hantavirus: Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal, dan Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru. Tipe yang menyerang ginjal memiliki angka kematian sekitar 15 persen, sedangkan tipe yang menyerang paru-paru memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi, yakni 60 hingga 80 persen.

Meskipun demikian, Dante menenangkan bahwa sejak 2023, Indonesia hanya mencatat 23 kasus hantavirus dan semuanya adalah tipe yang lebih ringan. “Di Indonesia, sejak 2023, telah ditemukan 23 kasus, tetapi semuanya adalah jenis yang lebih ringan,” tuturnya.

Penjelasan ini memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai perbedaan penularan hantavirus dengan COVID-19, yang menular melalui droplet dari manusia ke manusia. Dengan memahami karakteristik penularan hantavirus, masyarakat diharapkan dapat lebih waspada dan menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah penyebaran penyakit ini.