Scroll to read post

Rupiah Terpuruk: Indonesia Hadapi Rekor Terendah di Pasar Global

Rupiah Terpuruk: Indonesia Hadapi Rekor Terendah di Pasar Global
Rupiah Terpuruk: Indonesia Hadapi Rekor Terendah di Pasar Global
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 18 Mei 2026 | Rupiah Indonesia telah mencapai titik terendah sepanjang masa, menciptakan kekhawatiran yang mendalam di kalangan investor dan analis pasar. Dalam perdagangan yang dilanjutkan setelah libur dua hari, mata uang ini merosot hingga 1,2 persen menjadi 17.669 per dolar AS pada hari Senin, mencatatkan kinerja terburuk di kawasan Asia. Penurunan ini juga diikuti oleh saham yang anjlok 4,8 persen, mencapai level terendah dalam lebih dari setahun, serta lonjakan imbal hasil obligasi acuan 10 tahun yang naik 17 basis poin menjadi 6,86 persen.

Aksi jual yang terjadi di pasar domestik ini tidak terlepas dari fenomena global yang lebih luas, di mana banyak pasar Asia yang bergantung pada impor energi mengalami tekanan serupa akibat kekhawatiran inflasi dan kenaikan harga minyak, terutama yang dipicu oleh ketegangan politik di Iran. Khoon Goh, kepala riset Asia di Australia & New Zealand Banking Group, menyatakan bahwa para investor kini semakin cemas terhadap posisi fiskal Indonesia, terutama terkait dengan tingginya tagihan subsidi energi.

Selain itu, imbal hasil global yang lebih tinggi memperburuk situasi, mendorong imbal hasil domestik untuk dinaikkan agar tetap menarik bagi arus masuk investasi asing. Fitch Ratings dan Moody’s Ratings sebelumnya telah menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif, menambah tekanan pada pemerintah dan Bank Indonesia untuk segera mengambil langkah-langkah yang efektif.

Bank Indonesia, yang menghadapi tekanan untuk melindungi nilai rupiah, telah berjanji untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing serta mengoptimalkan semua instrumen kebijakan moneter. Meskipun demikian, banyak analis meragukan efektivitas langkah-langkah tersebut di tengah guncangan harga minyak yang berlanjut dan kekhawatiran mengenai kebijakan fiskal domestik yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi.

Presiden Prabowo Subianto dalam satu kesempatan menyatakan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir mengenai melemahnya rupiah, karena mayoritas penduduk desa tidak menggunakan dolar dalam transaksi sehari-hari. Namun, pandangan ini tidak mengubah kenyataan bahwa kinerja aset Indonesia tetap lebih rendah dibandingkan dengan aset di kawasan Asia lainnya, mencerminkan fundamental domestik yang lebih lemah.

Melemahnya nilai rupiah ini juga memberikan dampak signifikan terhadap pasar saham Indonesia, yang telah mengalami penurunan lebih dari 25 persen tahun ini. Saham-saham perusahaan yang terkait dengan beberapa miliarder terkaya di Indonesia mengalami kerugian yang signifikan, di antaranya PT Amman Mineral Internasional, PT Dian Swastatika Sentosa, dan PT Chandra Asri Pacific, yang semuanya merosot hingga batas maksimum harian sebesar 15 persen.

Saat ini, pasar masih mencerna berbagai ketidakpastian terkait kebijakan baru-baru ini, dan sentimen penghindaran risiko secara umum membebani rupiah serta aset pasar negara berkembang lainnya. Dengan semua tekanan ini, tantangan bagi pemerintah dan Bank Indonesia untuk menstabilkan nilai rupiah serta memulihkan kepercayaan investor tetap menjadi salah satu prioritas utama.