bisnis.laksamana.id – 09 Juni 2026 | Kasus child grooming atau manipulasi yang dilakukan pelaku untuk mendapatkan kepercayaan anak sebelum melakukan eksploitasi menjadi salah satu ancaman yang perlu diwaspadai orang tua. Psikolog klinis, Gita Aulia Nurani, M.Psi., Psikolog, mengatakan bahwa pola asuh yang terlalu ekstrem, baik terlalu membebaskan maupun terlalu mengekang, dapat menciptakan celah yang dimanfaatkan pelaku grooming.
Anak yang tidak terbiasa berdiskusi dengan orang tua cenderung mencari rasa aman atau perhatian dari orang lain, termasuk pelaku grooming. Pola asuh permisif yang minim pengawasan membuat anak lebih bebas berinteraksi tanpa pemahaman yang cukup mengenai risiko. Sebaliknya, pola asuh otoriter juga dapat membuat anak enggan terbuka kepada orang tua ketika menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman.
Salah satu faktor lain yang mempengaruhi tingkat kerentanan anak terhadap pelaku adalah kebutuhan emosional anak. Anak yang merasa kurang mendapatkan perhatian, cenderung lebih mudah tertarik pada sosok yang memberikan perhatian secara intens. Kehadiran figur ayah maupun ibu sama-sama memiliki peran penting dalam membangun rasa aman dan harga diri anak.
Orang tua perlu berhati-hati dalam mengajarkan kepatuhan kepada anak. Anak memang perlu menghormati orang dewasa, tetapi juga harus memahami bahwa mereka memiliki hak untuk berkata "tidak" ketika menghadapi situasi yang membuat tidak nyaman. Bahkan kebiasaan membagikan terlalu banyak informasi mengenai anak di media sosial juga berpotensi meningkatkan risiko.
- Anak menjadi lebih tertutup dari biasanya
- Terjadi perubahan emosi yang cukup drastis
- Tiba-tiba terlihat sangat dekat dengan seseorang yang baru dikenal
- Sering menyembunyikan pesan atau aktivitas online
- Mendapatkan hadiah atau barang tanpa penjelasan yang jelas
- Mulai menjauh dari keluarga maupun teman sebaya
- Tampak lebih cemas, mudah marah, atau defensif ketika ditanya tentang seseorang tertentu
Untuk menghindari child grooming, orang tua perlu membangun hubungan yang hangat dan aman secara emosional agar anak nyaman bercerita. Mengajarkan body safety atau keamanan tubuh sejak dini juga sangat penting. Selain itu, mengenalkan konsep consent (persetujuan) dan batasan dalam relasi yang sehat dapat membantu anak untuk lebih mandiri dan tidak mudah terpengaruh oleh pelaku.
Orang tua perlu melakukan pengawasan digital yang sehat dan sesuai usia anak. Membiasakan anak berani berkata "tidak" pada situasi yang membuatnya tidak nyaman juga sangat penting. Tak hanya itu, menanamkan pemahaman bahwa anak berhak menjaga dirinya sendiri dan meminta bantuan kapan pun saat merasa terancam atau tidak aman.
Kesimpulkan, pola asuh yang tepat dapat membantu anak untuk lebih mandiri dan tidak mudah terpengaruh oleh pelaku. Orang tua perlu berhati-hati dalam mengajarkan kepatuhan kepada anak dan membangun hubungan yang hangat dan aman secara emosional









