bisnis.laksamana.id – 11 Mei 2026 | Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN baru-baru ini, Perdana Menteri Vietnam, Pham Minh Chinh, memaparkan tiga usulan strategis untuk mengatasi krisis energi yang tengah melanda kawasan Asia Tenggara. Usulan tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi di tengah situasi geopolitik yang semakin menantang.
Usulan pertama yang diajukan oleh PM Chinh adalah pengembangan energi terbarukan secara masif. Menurutnya, ASEAN harus berinvestasi lebih banyak dalam energi angin, surya, dan biomassa untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Langkah ini bukan hanya akan mengurangi emisi karbon, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru di sektor energi hijau.
Kedua, PM Chinh menekankan pentingnya kerjasama regional dalam hal berbagi teknologi dan inovasi. Dia menyarankan agar negara-negara ASEAN memperkuat kolaborasi dalam penelitian dan pengembangan teknologi energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Kerjasama ini dapat dilakukan melalui pembentukan pusat riset bersama atau melalui pertukaran ilmuwan dan insinyur antar negara anggota.
Usulan ketiga adalah penguatan infrastruktur energi lintas batas. PM Chinh menyatakan bahwa ASEAN harus membangun jaringan listrik dan gas yang terintegrasi untuk memastikan pasokan energi yang stabil dan terjangkau bagi seluruh anggotanya. Infrastruktur ini juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya pengadaan energi di kawasan.
Konferensi ini juga membahas isu lain seperti pembentukan pusat maritim untuk menjaga ketertiban di Laut China Selatan dan upaya mempercepat pakta berbagi minyak antar negara anggota. Namun, fokus utama tetap pada bagaimana ASEAN dapat menghadapi tantangan energi di masa depan.
Di tengah ketegangan geopolitik global, ASEAN harus bersatu dan lebih mandiri dalam hal energi. Usulan dari PM Vietnam ini diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju ketahanan energi yang lebih baik di kawasan Asia Tenggara.








