Scroll to read post

Korea Selatan Membuka Jam Perdagangan Won 24 Jam, Berpotensi Meningkatkan Volatilitas Nilai Tukar

Rosmiya Patricea
Korea Selatan Membuka Jam Perdagangan Won 24 Jam, Berpotensi Meningkatkan Volatilitas Nilai Tukar
Korea Selatan Membuka Jam Perdagangan Won 24 Jam, Berpotensi Meningkatkan Volatilitas Nilai Tukar
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 04 Juli 2026 | Korea Selatan bergerak menuju babak baru dalam pasar keuangannya dengan membuka perdagangan mata uang won selama 24 jam mulai 6 Juli 2026. Kebijakan ini merupakan pelonggaran terbesar terhadap kontrol mata uang negara tersebut sejak krisis keuangan Asia 1997.

Sebelumnya, pemerintah Korea Selatan membatasi perdagangan won hanya pada jam kerja domestik sebagai strategi menjaga stabilitas nilai tukar setelah krisis 1997. Namun, kini, pembatasan tersebut mulai dilonggarkan agar won lebih mudah diperdagangkan investor global dan meningkatkan daya tarik pasar keuangan Korea Selatan.

Senior Asia Macro Strategist Amundi Asset Management, Claire Huang, mengatakan bahwa perpanjangan jam perdagangan merupakan langkah yang diperlukan untuk meningkatkan kehadiran Korea di pasar keuangan global. "Memfasilitasi transaksi won hingga setara dengan mata uang negara G10 membutuhkan likuiditas yang tersedia selama jam perdagangan yang lebih panjang," katanya.

Meski demikian, kebijakan 24 jam perdagangan diterapkan di tengah pelemahan won. Mata uang Korea Selatan itu sempat menyentuh level terendah dalam 17 tahun dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang paruh pertama 2026. Nilai tukar won terakhir diperdagangkan pada kisaran 1.540 won per dolar AS, atau melemah lebih dari 6 persen sepanjang tahun ini.

Ironisnya, pelemahan mata uang terjadi ketika fundamental ekonomi Korea Selatan justru menunjukkan kinerja kuat. Indeks Kospi melonjak sekitar 90 persen sepanjang tahun ini, didorong euforia kecerdasan buatan (AI) yang mengangkat saham perusahaan teknologi seperti Samsung Electronics dan SK Hynix. Ekspor juga mencetak rekor tertinggi, sementara surplus transaksi berjalan mencapai sekitar USD 28 miliar pada April 2026, salah satu yang terbesar dalam sejarah Korea Selatan.

Namun, derasnya arus modal keluar jadi penyebab utama tekanan terhadap won. Dalam empat bulan pertama tahun ini, Korea Selatan membukukan surplus transaksi berjalan sebesar USD 102,7 miliar. Akan tetapi, sebagian besar dana mengalir kembali ke luar negeri, termasuk lebih dari USD 60 miliar untuk investasi langsung ke luar negeri dan pembelian surat berharga asing oleh investor domestik. Di sisi lain, investor global juga menarik sekitar USD 43,6 miliar dari pasar saham Korea Selatan.

Senior Investment Manager Pictet Asset Management, Ali Bora Yigitbasioglu, menilai reformasi ini menunjukkan komitmen Korea Selatan terhadap standar internasional. "Meskipun prospek won masih bergantung pada siklus ekspor semikonduktor, penghapusan berbagai hambatan operasional akan membuat aset Korea secara struktural menjadi lebih menarik bagi investor," ujarnya.

Pemerintah Korea Selatan menegaskan pembukaan perdagangan won selama 24 jam bukan sekadar perubahan regulasi. "Tetapi infrastruktur penting yang memungkinkan pasar modal Korea mencapai tingkat aksesibilitas dan kemudahan yang diharapkan dari negara dengan status pasar maju," kata Wakil Menteri Keuangan Korea Selatan, Moon Jisung.

Meski membuka akses lebih luas bagi investor asing, sejumlah ekonom mengingatkan perdagangan selama 24 jam juga berpotensi meningkatkan volatilitas nilai tukar dalam jangka pendek. Ekonom Barclays, Bumki Son, juga mengatakan keterbukaan pasar memang membawa manfaat, tetapi juga meningkatkan risiko gejolak. "Keterbukaan pasar yang lebih besar kemungkinan akan disertai volatilitas yang lebih tinggi, dan hal itu perlu menjadi perhatian para pembuat kebijakan," katanya.