Scroll to read post

Kehilangan Kebiasaan Menyapa: Mengapa Kita Semakin Takut Menyapa Orang Asing

Rosmiya Patricea
Kehilangan Kebiasaan Menyapa: Mengapa Kita Semakin Takut Menyapa Orang Asing
Kehilangan Kebiasaan Menyapa: Mengapa Kita Semakin Takut Menyapa Orang Asing
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 05 Juli 2026 | Banyak dari kita mungkin telah mengalami momen di mana kita merasa takut atau canggung ketika menyapa orang asing. Apakah ini karena kita telah menjadi orang yang tidak sopan atau karena ada perubahan dalam kebiasaan kita? Jawabannya mungkin lebih kompleks daripada itu.

Beberapa waktu lalu, saya menemani kereta di stasiun yang cukup ramai. Ada mahasiswa yang sibuk menatap layar ponselnya, seorang ibu yang menemani anaknya bermain, dan beberapa pekerja yang baru pulang dari kantor. Di dekat saya, seorang pria paruh baya tampak kebingungan mencari jalur kereta yang akan dinaikinya. Ia beberapa kali melihat papan informasi, lalu menoleh ke arah orang-orang di sekitarnya seolah ingin bertanya. Anehnya, hampir semua orang menghindari kontak mata.

Saya kemudian menyadari bahwa perubahan ini tidak muncul begitu saja. Setiap hari kita mendengar berita tentang penipuan, pencopetan, pelecehan, hingga berbagai tindak kejahatan yang melibatkan orang asing. Media sosial pun dipenuhi video yang mengingatkan kita agar tidak mudah percaya kepada siapa pun. Lama-kelamaan, kewaspadaan berubah menjadi kebiasaan.

Kita menjadi lebih berhati-hati ketika ada orang yang tiba-tiba menyapa. Kita curiga ketika seseorang menawarkan bantuan. Bahkan, sapaan sederhana terkadang dianggap memiliki maksud tertentu. Tentu, berhati-hati bukanlah sesuatu yang salah. Namun ada perbedaan antara bersikap waspada dan kehilangan kepercayaan kepada sesama.

Kota modern ternyata tidak selalu membuat kita lebih dekat. Kecepatan hidup di kota besar membuat kita lebih sulit untuk berinteraksi secara langsung dengan orang lain. Pertemuan dengan orang lain sering kali hanya berlangsung beberapa detik, sekadar berpapasan di lift, halte, atau minimarket. Ironisnya, kita berada di tengah keramaian hampir setiap hari. Namun semakin banyak orang di sekitar kita, semakin sedikit yang benar-benar kita kenal.

Perubahan ini juga terlihat dari cara kita berkomunikasi. Hari ini kita bisa mengirim pesan kepada teman yang tinggal di kota lain hanya dalam hitungan detik. Kita mengetahui kabar seseorang melalui unggahan media sosial bahkan sebelum bertemu langsung dengannya. Namun, kemudahan itu tidak selalu membuat hubungan sosial menjadi lebih hangat.

Sapalan sederhana yang ternyata memiliki makna besar. Dari sapaan sederhana itulah kepercayaan sosial mulai tumbuh. Lingkungan yang warganya saling mengenal biasanya lebih cepat menyadari jika ada orang yang membutuhkan bantuan. Tetangga lebih mudah bekerja sama ketika menghadapi masalah bersama. Anak-anak pun tumbuh di tengah lingkungan yang membuat mereka merasa dikenal dan diperhatikan.

Mungkin inilah alasan mengapa banyak orang mengatakan bahwa mereka merasa kesepian meskipun hidup di tengah kota yang begitu padat. Bukan karena tidak ada orang di sekitar mereka. Melainkan karena tidak ada hubungan yang benar-benar terjalin.

Barangkali kita tidak kehilangan keberanian, tetapi kehilangan kebiasaan. Semakin saya memikirkan hal ini, semakin saya merasa bahwa persoalannya bukan terletak pada keberanian untuk menyapa. Kita hanya semakin jarang melakukannya. Kebiasaan yang dulu tumbuh secara alami perlahan menghilang karena ruang untuk berinteraksi juga semakin sedikit. Akibatnya, menyapa orang asing kini terasa canggung, bahkan dianggap tidak lazim.

Padahal, setiap hubungan sosial selalu dimulai dari hal-hal sederhana. Sebuah senyuman. Ucapan selamat pagi. Pertanyaan ringan kepada seseorang yang tampak kebingungan. Atau sekadar menganggukkan kepala ketika berpapasan. Mungkin semua itu tidak akan langsung mengubah dunia. Namun, dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah kepercayaan sosial tumbuh sedikit demi sedikit.