bisnis.laksamana.id – 18 Mei 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam, sementara nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS juga menunjukkan pelemahan. Dalam situasi yang mengkhawatirkan ini, Purbaya Yudhi Sadewa, Kepala Ekonom di Bank Indonesia, menyatakan bahwa pemerintah memiliki rencana untuk menjaga fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat.
Saat ini, IHSG turun lebih dari 2% dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, menjadikannya salah satu penurunan terburuk dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini disebabkan oleh sejumlah faktor, termasuk kekhawatiran investor terhadap inflasi global yang meningkat dan dampaknya terhadap perekonomian domestik.
Purbaya menambahkan bahwa pemerintah sedang memantau perkembangan ini secara intensif dan siap untuk mengambil tindakan yang diperlukan. “Kami akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan bahwa langkah-langkah yang diambil akan efektif dalam mengatasi penurunan ini,” katanya.
Selain itu, Rupiah juga menunjukkan tanda-tanda melemah, dengan nilai tukar yang mencapai level terendah dalam beberapa waktu terakhir. Purbaya menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar adalah salah satu fokus utama pemerintah saat ini. “Kami akan berusaha untuk menjaga agar nilai Rupiah tetap kompetitif dan stabil,” imbuhnya.
Dalam upaya memperbaiki kondisi ini, Purbaya menyebutkan beberapa strategi yang akan diterapkan. Di antaranya adalah peningkatan investasi, penguatan sektor industri, dan pengembangan sumber daya manusia. “Kami percaya bahwa dengan memperkuat sektor-sektor ini, kita dapat membangun fondasi yang lebih kuat untuk pertumbuhan ekonomi di masa depan,” ujarnya.
Purbaya juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat dalam menghadapi tantangan ini. “Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga ekonomi kita agar tetap tumbuh dan berkembang,” katanya.
Lebih lanjut, Purbaya mengingatkan pentingnya ketahanan ekonomi dalam menghadapi gejolak global. Dia mengajak semua pihak untuk tetap optimis dan bekerja sama dalam menciptakan solusi yang inovatif. “Kita harus belajar dari pengalaman di masa lalu dan mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan yang akan datang,” tutupnya.








