bisnis.laksamana.id – 21 Mei 2026 | Dunia pendidikan Indonesia sedang menghadapi perubahan besar. Pemerintah mulai mendorong pembelajaran berbasis Artificial Intelligence (AI) dan coding di sekolah, sementara di sisi lain status guru honorer akan ditata melalui penghapusan tenaga non-ASN secara bertahap. Kebijakan ini menghadirkan tantangan baru bagi mahasiswa calon guru di Indonesia.
Penggunaan AI dalam pendidikan memang membawa banyak manfaat. Teknologi ini dapat membantu guru membuat materi ajar, menyusun evaluasi pembelajaran, mencari referensi, hingga membuat media pembelajaran lebih menarik. Namun, implementasi AI di Indonesia belum sepenuhnya siap. Penelitian menunjukkan bahwa perkembangan AI dalam pendidikan Indonesia terus meningkat, tetapi masih menghadapi berbagai tantangan seperti rendahnya literasi digital guru, ketimpangan infrastruktur teknologi, dan persoalan etika penggunaan AI dalam pembelajaran.
Fenomena penggunaan AI juga mulai menimbulkan pro dan kontra di dunia pendidikan Indonesia. Di media sosial, banyak guru dan dosen mengeluhkan siswa yang menggunakan AI untuk mengerjakan tugas secara instan tanpa memahami isi materi. Di sisi lain, sebagian pendidik menilai AI justru dapat menjadi alat bantu belajar yang efektif jika digunakan dengan bijak.
Penataan guru honorer juga menjadi tantangan serius dalam dunia pendidikan Indonesia. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyebutkan bahwa masih ada 237.196 guru non-ASN yang aktif mengajar di sekolah negeri dan belum seluruhnya terakomodasi dalam penataan ASN maupun PPPK. Pemerintah bahkan menerbitkan Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026 agar pemerintah daerah tetap dapat memperpanjang penugasan guru honorer karena keberadaan mereka masih dibutuhkan untuk menjaga proses pembelajaran di sekolah.
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang teknologi canggih atau perubahan sistem kepegawaian. Pendidikan tetap membutuhkan sosok guru yang mampu membimbing, memahami kondisi siswa, dan menanamkan nilai moral dalam pembelajaran. Sebab, secanggih apa pun AI berkembang, peran guru sebagai pendidik tetap tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin.
Sebagai calon guru, kita harus siap menghadapi perubahan besar ini. Kita harus mampu menggunakan teknologi digital, memahami etika penggunaan AI, kreatif dalam pembelajaran, serta memiliki kemampuan sosial dan emosional yang tidak dapat digantikan oleh mesin.









