Scroll to read post

BEM Bersatu Mengkritisi Aksi Mahasiswa yang Menolak Program Makan Bergizi Gratis

Darya abra
BEM Bersatu Mengkritisi Aksi Mahasiswa yang Menolak Program Makan Bergizi Gratis
BEM Bersatu Mengkritisi Aksi Mahasiswa yang Menolak Program Makan Bergizi Gratis
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 16 Juni 2026 | BEM Bersatu telah mengeluarkan pernyataan sikap mengkritisi aksi mahasiswa yang menolak Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka menilai bahwa aksi tersebut telah kehilangan arah dan minim kajian. BEM Bersatu juga mempertanyakan prioritas isu yang diangkat dan mengapa Program MBG justru menjadi sasaran penolakan. Mereka menegaskan bahwa gerakan mahasiswa harus tetap independen dan berpihak pada kepentingan rakyat. Selain itu, BEM Bersatu juga mendesak sterilisasi gerakan mahasiswa dari pendanaan, fasilitas, dan intervensi politik praktis lainnya. Mereka juga menyatakan dukungan terhadap keberlanjutan Program MBG dengan catatan perbaikan tata kelola agar tepat sasaran dan akuntabel.

BEM Bersatu juga mengkritik adanya keterkaitan antara pimpinan aksi dengan jejaring politik tertentu. Mereka menyoroti mobil Fortuner yang digunakan oleh Tiyo Ardianto, pimpinan aksi, yang diduga terdaftar atas nama Siti Nuraeni, adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso. Dugaan ini diperkuat kehadiran politisi PDI Perjuangan, Andi Widjajanto, di tengah massa aksi. BEM Bersatu juga menilai bahwa kehadiran Tiyo Ardianto dalam Dialog Nasional Kebangsaan yang akan dilaksanakan di Bandung pada tanggal 18 Juni 2026 mendatang, bersama dengan sejumlah tokoh seperti Said Didu, Roy Suryo, Refly Harun, dan dr. Tifa, menunjukkan adanya jejaring yang patut dicermati.

BEM Bersatu juga mendesak agar gerakan mahasiswa tetap independen dan berpihak pada kepentingan rakyat. Mereka juga menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk intervensi politik praktis dalam gerakan mahasiswa.

BEM Bersatu juga menyatakan dukungan terhadap keberlanjutan Program MBG dengan catatan perbaikan tata kelola agar tepat sasaran dan akuntabel. Mereka juga mendesak sterilisasi gerakan mahasiswa dari pendanaan, fasilitas, dan intervensi politik praktis lainnya.