Scroll to read post

Bank Indonesia Melonjakkan Transaksi LCT Jadi USD 22,61 Miliar per April 2026

Raaqiyah Suginah
Bank Indonesia Melonjakkan Transaksi LCT Jadi USD 22,61 Miliar per April 2026
Bank Indonesia Melonjakkan Transaksi LCT Jadi USD 22,61 Miliar per April 2026
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 22 Mei 2026 | Bank Indonesia (BI) telah mencatat transaksi Local Currency Transaction (LCT) melonjak menjadi USD 22,61 miliar per April 2026, meningkat 309 persen secara tahunan.

Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI, Ruth A. Cussoy Intama, mengatakan dinamika global saat ini mendorong banyak negara memperkuat kerja sama bilateral melalui penggunaan mata uang masing-masing dalam transaksi perdagangan maupun investasi.

Local Currency Transaction ini menurut kami merupakan salah satu inisiatif yang perlu terus dikembangkan, apalagi sejak Presiden AS menerapkan Liberation Day. Jadi sudah saatnya kita memperkuat kerja sama bilateral melalui skema LCT,” kata Ruth di Makassar, Jumat (21/5).

Pertumbuhan tersebut berlanjut pada 2023 menjadi 2.602 pelaku dan naik lagi menjadi 5.020 pelaku pada 2024. Bahkan sepanjang 2025, rata-rata pelaku LCT sempat menyentuh 9.720 pelaku per bulan.

Tidak hanya dari sisi jumlah pengguna, nilai transaksi LCT juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Hingga April 2026, total transaksi LCT mencapai USD 22,61 miliar atau melonjak 309 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar USD 7,33 miliar.

Ruth menilai lonjakan tersebut mencerminkan semakin luasnya diversifikasi penggunaan mata uang dalam aktivitas ekonomi dan keuangan internasional.

“Bukan berarti kita menghindari dolar AS, karena kita tahu transaksi global masih dominan menggunakan dolar AS. Tetapi untuk negara-negara yang memang memiliki volume transaksi besar dan bisa langsung menggunakan mata uang domestik, kenapa harus lewat dolar dulu?” ungkapnya.

BI mencatat mitra utama Indonesia dalam implementasi LCT saat ini berasal dari China, Jepang, dan Malaysia. Porsi transaksi terbesar berasal dari China sebesar 89 persen, kemudian Jepang 6 persen, serta Malaysia 3 persen.

Bank sentral menilai skema LCT juga memberikan manfaat dari sisi efisiensi biaya transaksi karena pelaku usaha tidak perlu lagi melakukan konversi melalui dolar AS. Selain itu, penggunaan mata uang lokal juga dinilai dapat memperluas diversifikasi eksposur mata uang dan memperdalam pasar keuangan kawasan.

Ke depan, kerja sama serupa juga akan diperluas ke negara lain setelah tahapan teknis dan pedoman operasional selesai disusun.

“Perkembangan LCT yang dilakukan Bank Indonesia diawali dengan Malaysia dan Thailand, kemudian berkembang ke Jepang, China, Korea, Singapura, dan India. Dalam waktu dekat yang akan segera diimplementasikan adalah Singapura, India, dan Saudi Arabia,” kata Ruth.