Scroll to read post

27 Negara Ajukan Dana Darurat ke Bank Dunia Akibat Dampak Perang di Iran

27 Negara Ajukan Dana Darurat ke Bank Dunia Akibat Dampak Perang di Iran
27 Negara Ajukan Dana Darurat ke Bank Dunia Akibat Dampak Perang di Iran
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 24 Mei 2026 | Konflik bersenjata di Iran telah memicu gelombang krisis ekonomi global, mendorong 27 negara mengajukan permohonan dana darurat kepada Bank Dunia. Permintaan tersebut diajukan untuk mengatasi dampak domino dari perang, termasuk lonjakan harga bahan bakar dan ketidakstabilan keuangan negara-negara terdampak.

“Bank Dunia memiliki mekanisme Rapid Response Option yang memungkinkan negara peminjam mengalihkan hingga 10% dari sisa dana proyek yang belum dicairkan untuk kebutuhan darurat,” jelas sumber familiar dengan dokumen tersebut.

Presiden Bank Dunia Ajay Banga dalam pernyataan bulan lalu mengungkapkan kesiapan lembaganya menyediakan paket pendanaan darurat senilai USD 20-25 miliar. Dana ini ditujukan untuk membantu negara-negara menghadapi guncangan ekonomi akibat konflik regional.

Dua negara telah mengkonfirmasi permohonan mereka. Pejabat Kenya dan Irak secara terpisah menyatakan telah mengajukan pendanaan darurat untuk menstabilkan harga bahan bakar yang melonjak tajam dan menggerus anggaran negara.

Analis ekonomi Kevin Gallagher dari Universitas Boston menjelaskan preferensi negara-negara terhadap Bank Dunia dibanding IMF. “Program IMF biasanya disertai persyaratan penghematan ketat yang bisa memperburuk kondisi sosial, seperti terjadi di Kenya,” paparnya.

Sementara itu, Managing Director IMF Kristalina Georgieva menyebut 12 negara lain sedang mengupayakan bantuan jangka pendek senilai USD 20-50 miliar dari lembaganya. Kedua organisasi keuangan internasional ini kini berperan penting dalam menopang stabilitas ekonomi global di tengah gejolak.

Bank Dunia mencatat sebanyak 101 negara saat ini memiliki akses terhadap fasilitas pembiayaan darurat mereka, dengan 54 negara terdaftar dalam skema Rapid Response Option. Mekanisme ini dirancang untuk memberikan respon cepat terhadap krisis yang bersifat mendesak.

Eskalasi konflik di Timur Tengah terus memicu kekhawatiran pasar global. Para analis memprediksi dampak ekonomi akan semakin meluas jika situasi keamanan di kawasan tidak segera stabil. Bank Dunia dan IMF diperkirakan akan terus menjadi tumpuan utama negara-negara yang terkena imbas krisis ini.