Scroll to read post

Harga Minyak Menguat: Pasar Cermati Perkembangan di Selat Hormuz

Pauel Scott
Harga Minyak Menguat: Pasar Cermati Perkembangan di Selat Hormuz
Harga Minyak Menguat: Pasar Cermati Perkembangan di Selat Hormuz
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 19 Juni 2026 | Harga minyak mentah Brent ditutup menguat pada Kamis (18/6) usai Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance memperingatkan Israel agar tidak melanjutkan serangan terhadap kelompok Hezbollah yang didukung Iran di Lebanon. Pernyataan tersebut memunculkan keraguan, meski AS dan Iran telah menyepakati gencatan senjata.

Kontrak berjangka minyak Brent ditutup naik 30 sen atau 0,38 persen ke level USD 79,85 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 19 sen atau 0,25 persen menjadi USD 76,60 per barel.

Pada akhirnya, perhatian pasar minyak akan tertuju pada perkembangan di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia sebelum perang dimulai. Pemulihan penuh arus minyak melalui selat tersebut sudah diperhitungkan pasar. Apa pun yang kurang dari itu akan menjadi masalah," ujar Kilduff.

Nota kesepahaman berisi 14 poin antara AS dan Iran telah menetapkan masa negosiasi selama 60 hari, di mana Iran akan mengizinkan kapal melintas di Selat Hormuz tanpa dikenakan biaya. Kesepakatan itu juga menargetkan lalu lintas di selat tersebut kembali beroperasi penuh dalam waktu 30 hari.

Para analis memperkirakan pemulihan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz akan berlangsung secara bertahap. Di sisi lain, pelaku industri memperingatkan harga minyak kemungkinan tidak akan turun tajam karena permintaan mulai pulih dan persediaan minyak perlu diisi kembali.

Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak dari kawasan Teluk akan kembali ke level sebelum perang pada akhir Juli, sementara produksi minyak diproyeksikan pulih sepenuhnya pada Oktober. Bank investasi tersebut juga memperkirakan normalisasi ekspor ke tingkat sebelum perang dapat dicapai dengan peningkatan arus minyak melalui Selat Hormuz sebesar 13 juta barel per hari dibandingkan level saat ini, atau sekitar 70 persen dari volume sebelum perang.

Sementara itu, BNP Paribas belum memperkirakan harga minyak akan kembali ke level sebelum perang. Dalam catatannya, bank tersebut menilai harga USD 75 per barel akan menjadi "batas bawah yang bertahan dalam jangka waktu yang dapat diperkirakan," mengingat masih adanya gangguan pasokan dan tingginya permintaan.

Di sisi lain, konsumsi minyak China sebagai konsumen minyak terbesar kedua di dunia, diperkirakan mencapai 753 juta metrik ton pada 2026 atau turun 4,9 persen dibandingkan 2025. Penurunan ini dipicu oleh peralihan ke energi baru dan tingginya harga minyak, menurut laporan unit riset PetroChina.

Dalam kesimpulan, harga minyak mentah Brent ditutup menguat pada Kamis (18/6) usai Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance memperingatkan Israel agar tidak melanjutkan serangan terhadap kelompok Hezbollah yang didukung Iran di Lebanon. Pemulihan penuh arus minyak melalui Selat Hormuz akan menjadi kunci dalam menentukan harga minyak di masa depan.