bisnis.laksamana.id – 11 Juni 2026 | Ilmuwan perempuan asal Beijing, Tu Youyou, telah menciptakan obat malaria yang saat ini dianggap sebagai lini pertama pengobatan malaria di seluruh dunia. Artemisinin, yang ditemukan pada tahun 1971, telah membantu mengurangi angka kematian malaria secara signifikan.
Sejarah penemuan artemisinin dimulai pada tahun 1960-an, ketika Perang Vietnam sedang berkecamuk. Para ilmuwan dari Amerika Serikat dan China sama-sama putus asa mencari obat malaria yang lebih baik. Parasit penyebab malaria telah menjadi resisten terhadap obat-obatan yang ada, sehingga malaria menginfeksi separuh dari beberapa unit militer Amerika di Vietnam.
Pemerintah China kemudian meluncurkan proyek rahasia bernama Proyek 523 untuk menemukan pengobatan malaria baru. Tu Youyou memimpin proyek ini, yang bertujuan mengembangkan pengobatan efektif untuk malaria yang semakin resisten terhadap obat-obatan yang ada.
Tu Youyou melakukan sesuatu yang tidak lazim untuk ilmuwan di zamannya. Ia tidak hanya mencari di jurnal ilmiah modern, tapi juga menggali ratusan naskah pengobatan tradisional Cina untuk mencari petunjuk yang mungkin sudah ditinggalkan para tabib berabad-abad lalu.
Penggunaan tanaman Artemisia annua dalam pengobatan tradisional Cina untuk mengatasi demam bisa ditelusuri kembali ke buku "Zhou Hou Bei Ji Fang" karya Ge Hong yang ditulis pada 340 Masehi. Berdasarkan petunjuk Ge Hong yang menyebutkan merendam sejumput qinghao dalam dua liter air, memeras jusnya, dan meminumnya seluruhnya, metode ekstraksi suhu rendah untuk tanaman tersebut dikembangkan.
Tu Youyou kemudian menemukan bahwa resep kuno meminta perendaman tanaman, bukan perebusan. Ia beralasan bahwa panas tinggi mungkin merusak senyawa aktifnya. Ia mencoba lagi menggunakan pelarut berbasis eter pada suhu yang lebih rendah, dan kali ini berhasil. Satu perubahan kecil dalam metode, terinspirasi dari catatan seorang tabib yang hidup 1.600 tahun sebelumnya, mengubah segalanya.
Setelah metode ekstraksi ditemukan, hasil pengujian pada hewan luar biasa. Artemisinin yang diekstraksi menyembuhkan 100 persen infeksi malaria, pertama pada tikus dan monyet. Tapi jalan menuju uji klinis pada manusia tidak mudah. Di era itu, prosedur etis yang ketat untuk uji klinis belum ada di China. Pada 1971, Tu dan dua koleganya secara sukarela menjadi orang pertama yang mengonsumsi sendiri senyawa tersebut.
Sebelumnya, Tu Youyou dilarang mempublikasikan temuan timnya karena adanya pembatasan publikasi informasi ilmiah yang berlaku di China pada saat itu. Karya tersebut baru mencapai audiens internasional pada awal 1980-an. Butuh dua dekade sebelum WHO akhirnya merekomendasikan terapi kombinasi artemisinin sebagai lini pertama pertahanan melawan malaria.
Artemisinin telah membantu mengurangi angka kematian malaria secara signifikan, dan telah menjadi andalan utama dalam menghadapi angka yang mengkhawatirkan ini. Namun, kisahnya belum berakhir. Pencarian berteknologi tinggi untuk obat lain masih berlanjut, dan artemisinin masih menjadi sumber inspirasi bagi banyak ilmuwan.
Keberanian Tu Youyou untuk menjadi kelinci percobaan sendiri adalah taruhan yang mengubah sejarah pengobatan malaria dunia. Ia telah membuktikan bahwa kejeniusan tidak butuh gelar panjang untuk mengubah dunia.
Artemisinin telah menjadi contoh yang baik tentang bagaimana kearifan lama dapat disaring oleh sains modern untuk menghasilkan terobosan yang tidak terduga. Dan, seperti yang diungkapkan oleh Tu Youyou sendiri, ‘kejeniusan bukanlah hal yang dapat dipelajari, melainkan hal yang dapat dilakukan’.
Artemisinin telah menjadi simbol keberanian dan kejeniusan yang tidak terduga. Ia telah membantu mengubah sejarah pengobatan malaria dunia, dan akan terus menjadi inspirasi bagi banyak ilmuwan di masa depan.









