Scroll to read post

Satpam Dibegal dan Diduga Ditembak, RS Bantah Dokter Bilang Peluru Tak Berbahaya

Satpam Dibegal dan Diduga Ditembak, RS Bantah Dokter Bilang Peluru Tak Berbahaya
Satpam Dibegal dan Diduga Ditembak, RS Bantah Dokter Bilang Peluru Tak Berbahaya
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 23 Mei 2026 | Begal merupakan salah satu bentuk kejahatan yang semakin marak terjadi di masyarakat. Satu kasus menarik terjadi di Medan, di mana seorang satpam bernama Guntur Sugoro (41) terkena serangan begal pada Senin (11/5) sekitar pukul 23.30 WIB.

Guntur bekerja sebagai penjaga malam di SPPG dan baru dua bulan bekerja di tempat itu. Ia menyebutkan bahwa SPPG tersebut baru akan buka untuk semester depan anak sekolah. Pada malam itu, Guntur berangkat dari rumahnya untuk menuju rumah temannya dan meminjam uang sebesar Rp 200 ribu karena dirinya belum menerima gaji di tempat ia bekerja.

Ketika Guntur berjalan di Jalan Pasaribu, Desa Cinta Rakyat, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, ia dipepet oleh sekelompok orang berjumlah sekitar lima orang. Mereka menyuruh Guntur berhenti, lalu membacok dan diduga ditembak senapan angin di punggungnya.

Sontak Guntur mencoba kabur dari dekapan para sekelompok begal tersebut dan menabrak sepeda motor pelaku. Ia berhasil melarikan diri dan mencari pertolongan.

Guntur lalu dibawa ke RS dr. Pirngadi Medan, di mana ia mengalami kondisi peluru masih tertancap di dalam tubuhnya. Sebelumnya, Guntur mengaku dipulangkan oleh rumah sakit usai menjadi korban begal dengan kondisi peluru belum dikeluarkan dari dalam tubuhnya.

Kata Guntur, dokter menilai peluru timah tidak berbahaya di dalam tubuh. Namun, Humas RS dr. Pirngadi Medan, Ester, membantah pernyataan tersebut.

"Mana ada dokter bilang (enggak membahayakan) gitu. Cuma kan, mungkin pasien menanggapi seperti itu saja. Kalau enggak, statement dokter kita tetap itu peluru harus diangkat, itu tetap statement dari dokter kita," kata Ester.

Ester mengatakan bahwa pihak RS dr. Pirngadi Medan tetap menyarankan peluru tersebut harus diangkat dari tubuh pasien.

"Apa pun ceritanya, peluru itu harus tetap diangkat dari tubuh pasien," ujar Ester.

Ester pun menjelaskan bahwa Guntur tidak langsung dilakukan operasi pengangkatan peluru di tubuhnya karena pihak Rumah Sakit dr. Pirngadi tidak punya spesialis dokter bedah toraks.

Kata Ester, "Kita tidak punya spesialis bedah toraks. Tidak ada masalah dana. Tidak ada sama sekali (menaruh biaya pada korban)," imbuh Ester.

Seorang penjaga malam bernama Guntur Sugoro kena begal di Medan, pulang ke rumah karena tak sanggup bayar operasi. Pelurunya masih tertancap di dalam tubuhnya. Foto: Dok. Istimewa

Kasus ini menunjukkan bahwa kejahatan begal semakin marak dan berpotensi membahayakan nyawa korban. Oleh karena itu, perlu adanya penangkal dan penindakan yang lebih keras untuk mencegah kejahatan ini.

RS dr. Pirngadi Medan telah menyarankan peluru tersebut harus diangkat dari tubuh pasien, namun masih perlu penjelasan lebih lanjut tentang kondisi peluru tersebut.