Scroll to read post

Ritual Sepak Bola Unik di Indonesia Timur: Satu Desa, Berbeda Negara

Raaqiyah Suginah
Ritual Sepak Bola Unik di Indonesia Timur: Satu Desa, Berbeda Negara
Ritual Sepak Bola Unik di Indonesia Timur: Satu Desa, Berbeda Negara
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 03 Juli 2026 | Di Indonesia Timur, ada sebuah kebudayaan unik yang tidak dapat ditemukan di tempat lain di Indonesia. Ritual sepak bola di daerah ini telah menjadi bagian dari identitas komunal dan harga diri masyarakat. Mereka tidak hanya mengikuti turnamen sepak bola, tetapi juga memadukan identitas negara asing dengan kebudayaan lokal mereka.

Di Ambon dan Timika, atmosfer turnamen sepak bola seperti Piala Dunia telah menjadi sebuah anomali kebudayaan yang magis. Mereka tidak hanya menonton pertandingan, tetapi juga merayakannya dengan totalitas tanpa batas. Saya telah melihat bagaimana kegilaan sepak bola ini telah mendikte tatanan sosiologis masyarakat di sana.

Warga bergotong royong mengecat jalanan kampung mereka dengan identitas negara asing yang mereka jagokan. Bahkan, mereka akan memecahkan kongsi dan beda negara di dalam ruang paling privat, seperti di rumah. Saya telah melihat seorang ayah yang memegang teguh jersei Jerman, harus berhadapan dengan anak laki-lakinya yang memuja Argentina, sementara sang ibu menjadi benteng pertahanan terakhir bagi tim Brasil.

Ruang TV rumah yang biasanya damai mendadak berubah menjadi arena perang saraf. Meja makan menjadi ring debat yang panas, dan grup WhatsApp keluarga akan dipenuhi kiriman meme saling sindir yang intens. Bahkan, urusan logistik rumah tangga pun bisa ikut terganggu; jika tim jagoan ibu yang tersingkir, seisi rumah harus ekstra hati-hati saat meminta tolong dibuatkan kopi atau makan malam karena tensi di dapur bisa mendadak ikut meninggi.

Tapi, justru di sinilah letak poin kritisnya: ketika layar kaca hanya bisa menangkap keriuhan konvoi ratusan motor yang memadati Jembatan Merah Putih di Ambon, denyut nadi sepak bola itu sebenarnya hidup dan bergolak di dalam ruang tamu warga Timur.

Hebatnya, ada satu tamparan keras yang diberikan oleh masyarakat Timur kepada kita semua mengenai arti sebuah rivalitas. Biarpun fanatisme mereka masuk kategori garis keras dan hobi saling ejek, baik di jalanan maupun di dalam internal keluarga sendiri, tensi panas itu menguap begitu saja bersama peluit panjang akhir pertandingan. Mereka akan kembali duduk di teras yang sama, menyeduh kopi bareng, dan tertawa bersama.

Pada akhirnya, saya melihat antusiasme yang meluap-luap ini bukan sekadar bentuk hura-hura tanpa makna. Kibaran bendera-bendera asing di atas pohon kelapa dan keriuhan di dalam rumah-rumah warga Timur sesungguhnya adalah sebuah tamparan sekaligus gugatan sunyi bagi kondisi sepak bola nasional kita. Ada harapan mendalam yang terselip di sana; bahwa sudah saatnya talenta-talenta luar biasa dari Timur tidak lagi menghabiskan energinya untuk merayakan kejayaan negara orang lain, melainkan bangga membawa nama tim nasional Indonesia ke panggung dunia yang sesungguhnya.