bisnis.laksamana.id – 10 Mei 2026 | Pemerintah Indonesia semakin serius mendorong penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif energi, terutama dalam sektor otomotif. Upaya ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak, tetapi juga untuk meningkatkan efisiensi energi nasional. Menurut Ketua Umum Komunitas Mobil Gas (Komogas), Andy Lala, langkah ini sejalan dengan potensi penghematan anggaran yang bisa mencapai ratusan triliun rupiah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa harga CNG dapat bersaing dengan LPG dan BBM, berkat ketersediaan bahan baku gas domestik yang melimpah. Pemerintah saat ini tengah melakukan kajian teknis untuk mempersiapkan implementasi konversi CNG dalam waktu dekat.
Konversi kendaraan dari bensin ke CNG menjadi pilihan yang semakin relevan, terutama di tengah lonjakan harga BBM. Andy Lala menambahkan bahwa biaya konversi tergantung pada jenis perangkat yang digunakan, baik baru maupun bekas. Untuk perangkat baru berkualitas Eropa, biaya konversi bisa mencapai Rp 25 juta. Namun, ada juga perangkat baru dari pabrikan China yang lebih terjangkau, berkisar antara Rp 16 juta hingga Rp 18 juta.
Bagi konsumen yang mencari alternatif lebih ekonomis, perangkat bekas merupakan pilihan yang layak. Harganya lebih rendah, sekitar Rp 12 juta hingga Rp 13 juta, dengan kualitas yang masih baik dan masa pakai tabung yang panjang, hingga tahun 2034 atau 2037. Fleksibilitas harga ini memberikan kesempatan bagi konsumen untuk menyesuaikan pilihan sesuai dengan anggaran mereka.
Dengan adanya kebijakan yang tepat dan penawaran harga yang fleksibel, diharapkan adopsi CNG di kendaraan pribadi akan meningkat. Peluang ini menjadi sangat penting, mengingat kebutuhan akan energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan semakin mendesak.









