bisnis.laksamana.id – 24 Mei 2026 | Nama Marsinah terus bergema bahkan setelah 33 tahun kematiannya. Tahun ini, nama itu kembali terdengar bersamaan dengan peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur (16/5).
Peresmian tersebut dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk penghormatan negara terhadap perjuangan hak asasi manusia (HAM) dan hak-hak buruh. Momentum itu juga bertepatan dengan peringatan 28 tahun Reformasi.
Sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap Orde Baru, Marsinah memang lekat dengan sejarah perjuangan reformasi dan gerakan buruh perempuan. Namun menurut Dian Septi, Koordinator Marsinah.id, peresmian museum justru berisiko mengaburkan persoalan utama yang hingga kini belum dituntaskan negara.
Marsinah, seorang buruh tekstil yang tewas dibunuh di tahun 1990, telah menjadi simbol perlawanan terhadap Orde Baru. Ia menjadi salah satu tokoh yang paling banyak dibicarakan dalam sejarah perjuangan reformasi di Indonesia.
Setelah peresmian museum, Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa situasi masih aman terkendali sehingga masyarakat tidak perlu terlalu cemas meski rupiah telah menembus level Rp17.600 per dolar AS. Namun, beberapa analis mengatakan bahwa fluktuasi nilai tukar tersebut dapat memiliki dampak pada ekonomi masyarakat.
Peresmian museum ini juga menjadi perhatian bagi beberapa organisasi masyarakat sipil. Mereka mengatakan bahwa peresmian museum justru berisiko mengaburkan persoalan utama yang hingga kini belum dituntaskan negara.
Jadi, apakah peresmian museum ini merupakan langkah yang tepat untuk mengenang Marsinah? Ataukah justru berisiko mengaburkan persoalan utama yang hingga kini belum dituntaskan negara?








