Scroll to read post

Generasi Z Tionghoa Indonesia: Mencari Identitas yang Lebih Cair

Radi Geary
Generasi Z Tionghoa Indonesia: Mencari Identitas yang Lebih Cair
Generasi Z Tionghoa Indonesia: Mencari Identitas yang Lebih Cair
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 28 Mei 2026 | Fenomena identitas Tionghoa di Indonesia telah mengalami perubahan besar dalam dua dekade terakhir. Pada masa Orde Baru, identitas Tionghoa sering disembunyikan melalui asimilasi dan passing identity. Namun, generasi Z Tionghoa Indonesia menunjukkan pola yang berbeda. Banyak anak muda Tionghoa saat ini justru secara terbuka menyebut dirinya "Chindo", sebuah istilah populer yang merujuk pada "China Indonesia".

Istilah "Chindo" menjadi label sosial, dan merupakan bentuk identitas baru yang lebih cair, fleksibel, dan hybrid. Mereka tidak lagi melihat identitas sebagai "Indonesia" atau "Tionghoa", tetapi sebagai penggabungan keduanya. Dalam konteks ini, "Chindo" dapat dipahami sebagai bentuk hybrid identity, yaitu identitas campuran hasil negosiasi sejarah, budaya, dan globalisasi.

Dalam konteks Indonesia, etnis Tionghoa menjadi etnis minoritas yang sering kali mendapat prasangka. Istilah "Chindo" merepresentasikan ruang tersebut: tidak sepenuhnya "China", tetapi juga bukan "pribumi", melainkan identitas baru yang khas Indonesia. Pada Generasi Z, identitas "Chindo" berkembang dalam konteks sosial yang berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Generasi ini lahir pascareformasi, sehingga tidak mengalami langsung berbagai kebijakan diskriminatif seperti larangan penggunaan bahasa Cina, pembatasan praktik budaya, dan kerusuhan berbau rasial 1998. Hal ini membuat Generasi Z tumbuh dalam situasi sosial yang lebih terbuka dan multikultural. Walaupun demikian, memori kolektif tentang diskriminasi masih memengaruhi pembentukan identitas mereka.

Di media sosial atau ruang digital, Chindo generasi Z cenderung dapat menampilkan dan menegosiasikan identitas mereka. Mereka juga melakukan selective disclosure dan terbuka dalam penggunaan nama Cina, konten mengenai Imlek, humor mengenai etnis mereka, bahkan mengekspresikan kebanggaan terhadap etnis mereka. Banyak content creator Chindo yang mendapatkan banyak follower dan mendapat apresiasi dari masyarakat.

Identitas Chindo menjadi bentuk kompromi dan merupakan transformasi identitas pascareformasi; dari identitas yang "berusaha ditutupi" menjadi identitas yang lebih cair dan integratif. Perkembangan zaman dan globalisasi juga mendorong terbentuknya identitas hybrid ini. Korean drama, China drama, dan K-pop wave juga membentuk "toleransi" terhadap etnis ini.

Dalam perspektif psikologi sosial, fenomena Chindo sangat penting karena menunjukkan bagaimana minoritas etnis mengelola identitasnya dalam masyarakat saat ini. Sebagian individu merasa bahwa istilah ini cenderung mempersatukan etnis Tionghoa dengan Indonesia-nya; di sisi lain, banyak yang beranggapan bahwa istilah Chindo juga masih membuat tidak aman dan masih "membedakan". Ambivalensi ini menunjukkan bahwa identitas Chindo masih terus dinegosiasikan.

Di akhirnya, identitas Chindo menjadi simbol kekuatan dan keberanian generasi Z Tionghoa Indonesia dalam mencari identitas yang lebih cair dan fleksibel. Mereka tidak lagi terjebak dalam identitas yang rigid dan tradisional, melainkan dapat menikmati kebebasan dan keanekaragaman identitas.