bisnis.laksamana.id – 10 Mei 2026 | Dalam beberapa dekade terakhir, dominasi geopolitik dunia seolah telah mapan, dengan Amerika Serikat sebagai simbol demokrasi dan kebebasan. Namun, generasi muda yang lahir di era digital, dikenal sebagai Generasi Z, menunjukkan perubahan sikap yang signifikan. Mereka mulai melirik Tiongkok sebagai alternatif yang layak, meninggalkan pandangan tradisional yang selama ini didominasi oleh Barat.
Generasi Z, baik di Eropa maupun Amerika, menunjukkan pandangan yang lebih simpatik terhadap Tiongkok. Hal ini bukan sekadar tren sesaat, tetapi juga cerminan dari kekecewaan terhadap sistem demokrasi liberal yang selama ini dianggap ideal. Bagi banyak dari mereka, narasi tentang ‘Impian Amerika’ atau kesejahteraan Eropa semakin jauh dari kenyataan. Mereka menghadapi tantangan seperti krisis biaya hidup, harga rumah yang tidak terjangkau, dan beban utang pendidikan yang berat. Ketika janji demokrasi tidak sejalan dengan realitas, pertanyaan pun muncul: jika sistem ini yang terbaik, mengapa hidup semakin sulit?
Kekecewaan ini diperparah dengan diskursus politik yang dianggap tidak produktif. Melihat pemimpin yang terpilih melalui proses demokrasi tetapi gagal membawa perubahan nyata, Gen Z menjadi skeptis. Akibatnya, mereka mulai melirik model tata kelola lain yang lebih efisien. Mereka tidak lagi memuja ideologi secara membabi buta, tetapi mencari hasil nyata. Jika pemerintahan otoriter bisa membangun kota futuristik dan menjamin stabilitas ekonomi lebih cepat, bagi sebagian Gen Z, model tersebut lebih menarik.
Dalam konteks ini, Tiongkok tidak lagi dipandang sebagai musuh kebebasan. Generasi ini tidak memiliki trauma Perang Dingin, dan bagi mereka, komunisme hanyalah istilah dalam buku teks sejarah. Mereka melihat Tiongkok sebagai negara yang mampu bertransformasi menjadi pusat industri dunia dalam waktu singkat. Pencapaian Tiongkok di bidang teknologi, manufaktur, dan infrastruktur mengesankan banyak dari mereka. Mereka lebih percaya pada apa yang mereka lihat di layar smartphone, yaitu kemajuan yang nyata.
Selain itu, kepedulian Gen Z terhadap isu-isu global seperti krisis iklim memainkan peran penting. Saat negara-negara Barat dianggap lamban dalam bertindak, Tiongkok tampil sebagai pemimpin global dalam teknologi hijau. Dominasi Tiongkok dalam produksi panel surya, turbin angin, dan kendaraan listrik menunjukkan kepemimpinan yang progresif. Bagi Gen Z, tindakan nyata ini lebih berarti daripada retorika belaka.
Peran soft power Tiongkok juga tidak dapat diabaikan. Lewat platform seperti TikTok, gaya hidup dan tren kreatif dari Tiongkok menyebar secara organik. Fenomena seperti China Maxing menunjukkan bahwa pengaruh Tiongkok telah merambah ke tingkat personal. Produk seni, mainan koleksi, dan drama Tiongkok yang berkualitas tinggi berhasil mengubah citra negara ini.
Fenomena ini menjadi peringatan bagi Barat. Jika sistem demokrasi tidak mampu menjawab tantangan ekonomi dan isu eksistensial generasi muda, mereka akan mencari alternatif. Tiongkok telah berhasil mengubah citranya dan menarik perhatian Generasi Z. Ini menandakan bahwa perang pengaruh bukan lagi tentang militer atau ekonomi, tetapi juga memperebutkan hati dan pikiran generasi masa depan. Saat ini, Tiongkok tampaknya memenangkan perhatian tersebut.









