bisnis.laksamana.id – 23 Mei 2026 | Profesi pelatih kecerdasan buatan atau AI trainer belakangan ini menjadi perhatian masyarakat di media sosial. Fenomena ini muncul setelah seorang pengguna Instagram membagikan pengalamannya mendapatkan bayaran dari perusahaan bernama Mindrift hanya dengan merekam aktivitas mencuci piring. Kegiatan sederhana ini rupanya digunakan untuk melatih robot humanoid agar dapat memahami gerakan manusia di dunia nyata.
Berbagai warganet Indonesia mulai tertarik dengan profesi ini sebagai pekerjaan sampingan baru. Namun, perlu diingat bahwa tren ini muncul karena kecerdasan buatan kini memerlukan pasokan data langsung dari kehidupan nyata.
Pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, menjelaskan bahwa AI trainer memainkan peran penting dalam mengembangkan kecerdasan buatan. Mereka bertanggung jawab untuk mengumpulkan dan mengolah data yang akurat dan relevan untuk melatih model kecerdasan buatan.
Seiring dengan meningkatnya permintaan AI trainer, juga meningkatlah risiko yang terkait dengan profesi ini. Salah satu risiko utama adalah privasi data. Dengan merekam aktivitas sehari-hari, AI trainer harus memastikan bahwa data yang dikumpulkan tidak mengungkap informasi pribadi yang sensitif.
Mengingat potensi dan risiko yang terkait dengan AI trainer, penting bagi masyarakat untuk memahami peran dan tanggung jawab yang terkait dengan profesi ini. Dengan demikian, dapat diharapkan bahwa AI trainer dapat berkembang menjadi profesi yang lebih baik dan lebih aman.









