bisnis.laksamana.id – 13 Mei 2026 | Wamendagri Bima Arya Sugiarto menekankan pentingnya ideologi yang kuat dan keberanian bagi seorang pemimpin dalam acara bedah buku “Babad Alas” di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah. Acara ini berlangsung pada Selasa, 12 Mei 2026.
Bima Arya berbagi pandangannya bahwa seorang pemimpin harus memiliki pijakan ideologis yang kokoh serta nilai-nilai yang kuat agar tak mudah terpengaruh oleh tekanan kelompok tertentu. Ia menegaskan bahwa komitmen terhadap nilai inklusivitas dan keberpihakan kepada masyarakat adalah pedoman utama dalam pengambilan keputusan, termasuk yang berisiko tinggi.
“Seorang pemimpin sering kali dihadapkan pada pilihan yang sulit. Kita bisa memilih kenyamanan atau mengambil risiko. Namun, saya memilih risiko ketika yakin terhadap nilai-nilai keberpihakan tersebut,” ujarnya.
Selama satu dekade memimpin Kota Bogor, Bima Arya mengaku keteguhan dalam memegang ideologi adalah kunci menyelesaikan persoalan kompleks di birokrasi dan masyarakat. Ia mencontohkan keberaniannya dalam membatasi izin penjualan alkohol di tempat hiburan malam demi melindungi generasi muda, meskipun menghadapi tekanan dari berbagai pihak. Selain itu, prinsip inklusivitas juga menjadi landasan dalam menyelesaikan konflik pendirian rumah ibadah yang berlangsung bertahun-tahun.
Bima Arya menambahkan bahwa ideologi saja tidak cukup tanpa strategi membangun harapan masyarakat dan membentuk tim birokrasi yang solid. Dalam hal pengelolaan sumber daya manusia, ia menekankan bahwa karakter, loyalitas, dan militansi lebih diutamakan dibandingkan kompetensi teknis.
“Ketika memilih kepala dinas, bagi saya karakter dan adab adalah nomor satu. Kompetensi datang setelahnya,” jelasnya.
Untuk menjaga konsistensi nilai-nilai tersebut, Bima Arya menerapkan sistem penguatan moral melalui keterlibatan langsung dengan masyarakat, dialog bersama aktivis, dan menjadikan keluarga sebagai benteng terakhir dalam menjaga integritas. Nilai-nilai kritis yang ditanamkan dalam lingkungan keluarga menjadi pengingat penting untuk menolak segala bentuk penyimpangan, termasuk gratifikasi.
Bima Arya juga berpesan kepada para mahasiswa agar mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin masa depan. Ia mengingatkan bahwa masa kepemimpinan berjalan sangat cepat, sehingga setiap kesempatan harus dimanfaatkan secara maksimal dengan dedikasi dan semangat pengabdian.
“Bagi kalian yang bercita-cita menjadi pemimpin, jangan lewatkan momen tersebut. Sepuluh tahun berlalu dengan cepat. Siapkanlah momen ketika kalian menjadi pemimpin dan lakukan dengan penuh semangat,” tandasnya.
Acara bedah buku ini turut dihadiri oleh Dekan FISIP Undip Teguh Yuwono, Asisten II Pemerintah Kota Semarang Hernowo Budi Luhur, serta para dosen dan mahasiswa FISIP Undip.









