bisnis.laksamana.id – 04 Juli 2026 | Brain rot, istilah yang dikenalkan oleh Oxford University Press sebagai Word of the Year 2024, bukan lagi sekadar lelucon di media sosial. Fenomena ini sebenarnya telah terjadi selama beberapa tahun terakhir, tetapi baru-baru ini mulai dikonfirmasi lewat riset, kebijakan negara, dan pengalaman langsung jutaan orang Indonesia yang merasa makin sulit fokus, makin malas berpikir dalam, dan makin bergantung pada layar untuk mengisi setiap jeda waktu kosong.
Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan oleh Kompas, 81,8 persen pakar sepakat bahwa brain rot adalah istilah yang menggambarkan penurunan nyata pada fungsi kognitif akibat konsumsi konten digital berlebihan. Generasi Z dan generasi alfa adalah kelompok yang paling terdampak oleh fenomena ini, dengan 84 persen pakar menyebut bahwa mereka adalah kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif dari konsumsi konten digital.
Hasil jajak pendapat tersebut juga menunjukkan bahwa generasi Z tercatat sebagai kelompok dengan gangguan psikis akibat penggunaan gawai berlebihan tertinggi, sekitar seperempat dari populasi yang disurvei. Seorang neurosaintis dari RSCM menjelaskan bahwa fenomena ini bukan hanya sekadar metafora, tetapi ada hipoaktivasi otak yang menyebabkan fungsi otak menurun akibat penggunaan internet yang berlebihan.
Desain platform-platform digital yang memang disengaja untuk memaksimalkan retensi dan durasi tonton juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan fenomena ini. Algoritma AI yang digunakan oleh platform-platform tersebut dirancang untuk memaksimalkan retensi dan durasi tonton, bukan untuk memberi apa yang sebenarnya dibutuhkan pengguna.
Ketergantungan pada AI generatif untuk berpikir juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan brain rot. Riset MIT Media Lab tahun 2025 menunjukkan bahwa aktivitas otak orang yang menulis esai dengan bantuan ChatGPT dibandingkan dengan yang menulis sendiri menunjukkan jaringan konektivitas otak yang paling lemah. Istilah yang digunakan untuk fenomena ini adalah cognitive debt, utang kognitif yang baru terasa belakangan, ketika kita sudah terlalu sering melimpahkan tugas berpikir ke mesin.
Riset dari kalangan akademisi Indonesia sendiri menunjukkan bahwa ChatGPT bisa berperan sebagai perancah kognitif yang membantu mahasiswa pada tahap awal dan menengah proses berpikir kritis, asal penggunaannya disertai kesadaran. Masalahnya muncul ketika AI dipakai secara pasif, tanpa pernah mempertanyakan jawabannya—dan riset yang sama menemukan tanpa intervensi yang eksplisit, pemanfaatan ChatGPT tidak banyak menyumbang pada kemampuan berpikir kritis yang fundamental.
Pemerintah juga telah menanggapi keresahan ini dengan menerbitkan aturan turunan dari PP Tunas yang menunda akses akun anak di bawah 16 tahun pada delapan platform berisiko tinggi—YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, dan Roblox. Menteri Komdigi Meutya Hafid menegaskan langkah ini diambil untuk melindungi masa depan anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, bukan untuk mengorbankan mereka demi teknologi.









