Scroll to read post

Anak yang Dulu Ceria: Mengapa Mereka Bisa Berubah Setelah Kehilangan Orang Tuanya?

Anak yang Dulu Ceria: Mengapa Mereka Bisa Berubah Setelah Kehilangan Orang Tuanya?
Anak yang Dulu Ceria: Mengapa Mereka Bisa Berubah Setelah Kehilangan Orang Tuanya?
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 25 Juni 2026 | Kehilangan orang tua pada usia yang masih sangat muda dapat memiliki dampak yang signifikan pada perkembangan emosi dan perilaku anak. Banyak orang dewasa menganggap perubahan sikap anak sebagai bentuk kenakalan atau pembangkangan, tetapi sebenarnya ada alasan yang lebih dalam di balik perubahan itu.

Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa anak-anak belum memiliki kemampuan yang sama dengan orang dewasa dalam memahami dan mengelola kesedihan. Karena itu, rasa kehilangan tidak selalu ditunjukkan melalui tangisan atau kata-kata. Sebagian anak justru menunjukkan kesedihannya lewat sikap yang lebih mudah tersinggung, sulit diatur, atau cenderung menarik diri dari lingkungan sekitar.

Contoh yang menarik adalah kisah seorang anak perempuan yang dikenal sebagai anak yang paling dekat dengan ayahnya. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang ceria, mudah bergaul, dan tidak banyak membantah orang tuanya. Namun, setelah ayahnya meninggal dunia, ia mengalami perubahan yang signifikan. Ia menjadi lebih pendiam, lebih sering marah, dan lebih sulit menerima nasihat.

Hal seperti ini sebenarnya banyak tergambar dalam berbagai karya. Film Keluarga Cemara menunjukkan bahwa keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk mendapatkan rasa aman. Sementara novel Laskar Pelangi mengingatkan bahwa pengalaman masa kecil dapat membentuk cara seseorang menghadapi kehidupan hingga dewasa.

Yang perlu dipahami adalah bahwa tidak semua anak yang kehilangan orang tua akan mengalami perubahan yang sama. Namun, satu hal yang perlu dipahami, seorang anak yang sedang berduka tidak selalu membutuhkan banyak nasihat. Kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan, memahami, dan memberi waktu agar mereka dapat berdamai dengan kehilangan yang mereka alami.

Di balik kemarahan yang terlihat, bisa jadi ada kerinduan yang tidak pernah tersampaikan. Di balik sikap keras kepala yang dianggap membangkang, mungkin ada kesedihan yang tidak pernah benar-benar dipahami. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami bahwa perubahan perilaku anak tidak selalu muncul tanpa alasan.